Juli 17, 2026

Indonesia dan China Kembangkan Vaksin Dengue mRNA Pertama di Dunia, Terobosan Baru Lawan Demam Berdarah

0
IMG-20260713-WA0142(1)

JAKARTA – Indonesia bersama Tiongkok mencatatkan langkah penting dalam dunia kesehatan dengan mengembangkan purwarupa vaksin dengue tetravalen berbasis teknologi messenger RNA (mRNA). Apabila seluruh tahapan penelitian dan uji klinis berjalan sesuai rencana, vaksin ini berpotensi menjadi vaksin dengue berbasis mRNA pertama di dunia.

Peluncuran resmi purwarupa vaksin tersebut dilaksanakan di Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada Rabu (8/7/2026). Pengembangan vaksin merupakan hasil kolaborasi Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia dengan memanfaatkan materi genetik (gen preM-E) virus dengue strain asli Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan inovasi tersebut menjadi tonggak penting bagi penguatan kemandirian industri vaksin nasional sekaligus membuka peluang Indonesia menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi vaksin modern.

“Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Menurut Menkes, keberhasilan proyek ini akan menjadikan vaksin dengue tersebut sebagai vaksin mRNA pertama untuk penyakit demam berdarah sekaligus memperluas kemampuan Indonesia dalam memproduksi antigen vaksin secara mandiri dari hulu hingga hilir.

Pengembangan vaksin ini merupakan salah satu pelajaran penting dari pandemi COVID-19 ketika Indonesia menghadapi keterbatasan akses terhadap vaksin, obat, dan alat diagnostik.

Sejak periode 2020–2022, pemerintah mulai memperkuat ekosistem riset dan industri kesehatan nasional. Dari sebelumnya hanya memiliki satu perusahaan produsen vaksin, kini Indonesia telah memiliki empat perusahaan, yakni Bio Farma, Biotis, PT Etana Biotechnologies Indonesia, dan JBio.

Saat ini Indonesia telah mampu memproduksi 11 dari 16 jenis antigen yang dibutuhkan dalam program imunisasi nasional. Pemerintah menargetkan seluruh kebutuhan antigen tersebut dapat diproduksi secara mandiri sebelum tahun 2030.

Kerja sama penelitian Indonesia dan Tiongkok sendiri telah dimulai sejak 2023. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut berawal dari pertemuan tim peneliti Universitas Indonesia dengan Prof. Zhang Linqi dari Tsinghua University, salah satu ilmuwan vaksin terkemuka di dunia.

Menurut Stella, model kolaborasi yang dibangun mengutamakan kerja sama nyata dalam penelitian sebelum diformalkan melalui nota kesepahaman (MoU).

Pemilihan penyakit dengue sebagai fokus penelitian didasarkan pada tingginya beban penyakit di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan terdapat sekitar 151 ribu kasus demam berdarah setiap tahun dengan sekitar 650 kematian.

Pemerintah menilai pengembangan vaksin dengue menjadi salah satu prioritas nasional karena penyakit tersebut masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.

Menkes Budi berharap hasil penelitian ini tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah semata, tetapi dapat berkembang menjadi produk kesehatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri bioteknologi, dan mitra internasional, Indonesia optimistis mampu memperkuat kapasitas riset nasional, mempercepat kemandirian industri vaksin, serta berkontribusi dalam pengembangan teknologi kesehatan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *