Juni 24, 2026

Australia Konfirmasi Kasus Kedua Flu Burung H5, Ancaman H5N1 Mulai Menjangkau Satwa Liar

0
IMG-20260622-WA0029

Australia Barat — Australia mengonfirmasi kasus kedua infeksi flu burung tipe H5 pada burung liar di wilayah Australia Barat (Western Australia/WA) pada Senin (22/6/2026). Temuan ini menjadi perhatian global karena Australia sebelumnya merupakan salah satu wilayah yang belum terdampak strain H5 yang sangat patogen dan telah menyebar di berbagai negara.

Kasus terbaru tersebut ditemukan di kawasan Esperance, sekitar 700 kilometer tenggara Perth. Pemerintah Australia melalui otoritas pertanian memastikan hasil pengujian menunjukkan dua jenis burung liar, yakni skua cokelat dan petrel raksasa utara, terinfeksi virus H5N1.

Menteri Pertanian Federal Australia Julie Collins menyatakan hasil pemeriksaan dari Australian Centre for Disease Preparedness (ACDP) mengonfirmasi keberadaan virus tersebut pada burung yang ditemukan dalam kondisi sakit dan kemudian mati.

Sebelumnya, kasus pertama ditemukan pada seekor burung laut migran di Cape Le Grand National Park, dekat Esperance. Temuan kedua memperkuat kekhawatiran bahwa virus flu burung H5 telah mulai masuk melalui jalur migrasi satwa liar.

Pemerintah Australia menegaskan hingga saat ini belum ditemukan bukti penyebaran virus ke peternakan unggas komersial maupun adanya infeksi pada manusia. Namun, langkah pencegahan diperketat untuk mencegah risiko penyebaran lebih luas.

Salah satu produsen unggas terbesar Australia, Ingham’s, mengambil langkah antisipasi dengan melakukan lockdown terhadap seluruh operasionalnya di wilayah Australia Barat. Kebijakan tersebut dilakukan untuk memperkuat biosekuriti dan melindungi rantai produksi unggas.

Menteri Lingkungan dan Air Australia Murray Watt menyebut munculnya kasus kedua ini sebagai perkembangan yang mengecewakan, tetapi masih dalam batas yang telah diperkirakan mengingat penyebaran global virus H5N1 yang terus berlangsung.

Australia juga meningkatkan pengawasan terhadap satwa liar setelah laporan adanya sejumlah burung mati di wilayah pesisir selatan Australia Barat. Para ilmuwan memperingatkan penyebaran virus pada populasi burung liar dapat memberikan dampak serius terhadap ekosistem.

Pemerintah Australia telah mengalokasikan lebih dari 113 juta dolar Australia untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman flu burung, termasuk pengawasan, pengujian laboratorium, serta respons darurat.

Masyarakat diminta tidak menyentuh burung liar yang ditemukan sakit atau mati dan segera melaporkan temuan mencurigakan kepada pihak berwenang.

Kasus flu burung H5 di Australia menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis yang berasal dari hewan terus menjadi tantangan global. Meskipun risiko terhadap manusia saat ini masih rendah, pengawasan ketat terhadap satwa liar, peternakan, serta pergerakan virus menjadi kunci untuk mencegah kemungkinan krisis kesehatan yang lebih besar di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *