Juni 24, 2026

Israel Laporkan Dua Kasus Suspek Ebola, Warga Pulang dari Kongo Jalani Isolasi Ketat

0
IMG-20260622-WA0028

Tel Aviv — Israel melaporkan dua kasus suspek Ebola pada akhir pekan 20–21 Juni 2026 setelah dua warga negara tersebut kembali dari perjalanan ke Republik Demokratik Kongo (DRC), negara yang tengah menghadapi wabah Ebola. Kedua pasien saat ini menjalani perawatan dan isolasi di rumah sakit rujukan khusus, sementara hasil pemeriksaan laboratorium masih menunggu konfirmasi.

Kementerian Kesehatan Israel menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kasus Ebola yang terkonfirmasi di wilayah Israel. Status kedua pasien masih dalam kategori suspek atau dugaan, sehingga pemerintah meminta masyarakat tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi.

Kasus pertama dilaporkan pada Jumat (20/6/2026). Seorang pria yang baru kembali dari Kongo tiga hari sebelumnya mengalami gejala demam dan sakit kepala. Pasien kemudian dibawa ke Rambam Health Care Campus di Haifa dan ditempatkan dalam ruang isolasi dengan protokol ketat untuk penyakit menular berisiko tinggi.

Kasus kedua muncul pada Minggu (21/6/2026). Pasien tersebut juga memiliki riwayat perjalanan dari Kongo dan mulai mengalami gejala berupa demam, sakit kepala, serta diare. Ia kemudian dirujuk ke Sheba Tel Hashomer Medical Center sebagai fasilitas kesehatan rujukan yang disiapkan menangani dugaan kasus Ebola.

Kementerian Kesehatan Israel menyatakan pemeriksaan laboratorium terhadap kedua pasien masih berlangsung. Hasil tes diperkirakan akan diketahui dalam beberapa hari ke depan untuk memastikan apakah kedua kasus tersebut benar-benar terinfeksi virus Ebola atau tidak.

Selain melakukan pengujian medis, otoritas kesehatan Israel juga menjalankan penyelidikan epidemiologi. Petugas melakukan pelacakan perjalanan, riwayat penerbangan, lokasi yang dikunjungi pasien setelah tiba di Israel, serta orang-orang yang melakukan kontak dengan mereka.

Pemerintah juga masih menyelidiki apakah kedua pasien memiliki hubungan epidemiologi atau kemungkinan terpapar dari sumber infeksi yang sama selama berada di wilayah Kongo.

Wabah Ebola yang terjadi di Kongo dan Uganda saat ini berkaitan dengan galur Bundibugyo, salah satu varian Ebola yang jarang ditemukan. Varian tersebut menjadi perhatian karena hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi khusus yang secara spesifik disetujui untuk penggunaannya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus memantau perkembangan wabah tersebut karena penyakit Ebola memiliki tingkat kematian tinggi dan berpotensi menyebar lintas negara melalui perjalanan internasional.

Meski demikian, otoritas kesehatan Israel menegaskan bahwa risiko penyebaran di dalam negeri saat ini masih rendah. Sistem deteksi dini dan protokol isolasi telah disiapkan untuk mencegah kemungkinan penularan.

Munculnya dua kasus suspek Ebola di Israel menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular global masih membutuhkan kewaspadaan tinggi. Pengawasan terhadap pelaku perjalanan dari wilayah terdampak, pemeriksaan cepat, serta respons kesehatan yang terkoordinasi menjadi faktor penting dalam mencegah wabah berkembang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *