Juni 24, 2026

Sampel Otak Anjing di Jembrana Positif Rabies, Tiga Warga Termasuk Dua Balita Digigit

0
IMG-20260622-WA0025

Jembrana, Bali — Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan seekor anjing yang menyerang dan menggigit tiga warga di Banjar Tangi, Desa Tegalbadeng Timur, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, positif terjangkit rabies.

Kepastian tersebut diperoleh setelah Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar mengeluarkan hasil uji sampel otak anjing pada Minggu (21/6/2026). Hewan tersebut sebelumnya dilaporkan menyerang warga secara agresif hingga menyebabkan tiga orang menjadi korban, termasuk dua anak balita.

Peristiwa bermula ketika anjing jantan berwarna cokelat berusia sekitar tiga tahun itu menyerang warga dalam kurun waktu dua hari. Korban pertama adalah seorang balita berusia empat tahun, kemudian seorang anak berusia lima tahun. Sehari berikutnya, anjing yang sama kembali menyerang seorang pria dewasa berusia 47 tahun saat menghadiri acara syukuran.

Anjing tersebut kemudian ditemukan mati oleh warga pada Selasa (16/6/2026) dini hari. Petugas mengambil sampel otak hewan tersebut untuk memastikan penyebab kematian. Hasil pemeriksaan BBVet Denpasar menyatakan sampel dari Desa Tegalbadeng Timur positif rabies, sementara sampel lain dari Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, dinyatakan negatif.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, membenarkan hasil pemeriksaan tersebut.

Sebagai langkah cepat pengendalian, pemerintah daerah akan melakukan vaksinasi darurat terhadap Hewan Penular Rabies (HPR) di sekitar lokasi kejadian dengan radius satu hingga dua kilometer. Selain itu, eliminasi selektif terhadap hewan berisiko juga akan dilakukan berdasarkan koordinasi dengan pihak desa.

“Vaksinasi emergency akan segera dilakukan untuk memutus rantai penyebaran rabies,” ujar pihak terkait.

Berdasarkan data pemerintah daerah, hingga awal Juni 2026 Kabupaten Jembrana telah mencatat 33 kasus positif rabies pada hewan, baik anjing maupun kucing. Kasus tersebut tersebar di sejumlah wilayah, dengan jumlah tertinggi berada di Kecamatan Mendoyo.

Sementara itu, cakupan vaksinasi HPR di Jembrana masih perlu ditingkatkan. Dari populasi anjing sekitar 40.400 ekor, baru sekitar 9.000 ekor yang telah mendapatkan vaksinasi atau sekitar 20 persen. Pemerintah menargetkan vaksinasi massal dapat diselesaikan pada Juli hingga Agustus 2026.

Tiga warga yang menjadi korban gigitan telah mendapatkan suntikan Vaksin Anti-Rabies (VAR) sebagai tindakan pencegahan. Pemerintah memastikan ketersediaan vaksin untuk hewan maupun manusia masih mencukupi.

Kasus rabies di Jembrana kembali menjadi perhatian serius karena melibatkan anak-anak sebagai korban. Pemerintah mengimbau masyarakat agar segera melapor apabila menemukan hewan yang menunjukkan perilaku tidak normal, seperti agresif mendadak, takut air, kejang, atau mati secara tiba-tiba.

Pengendalian rabies membutuhkan kerja sama seluruh pihak, mulai dari vaksinasi hewan peliharaan, pengawasan lingkungan, hingga penanganan cepat terhadap korban gigitan. Percepatan vaksinasi menjadi langkah utama untuk menekan risiko penyebaran penyakit rabies yang dapat berakibat fatal bagi manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *