Juni 24, 2026

WHO Laporkan Kasus H9N2 pada Anak di Guangxi China, Paparan Unggas Jadi Sorotan

0
IMG-20260622-WA0030

Jenewa — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya kasus baru infeksi virus avian influenza A(H9N2) pada manusia di Wilayah Otonomi Guangxi Zhuang, China. Kasus yang dilaporkan pada 22 Juni 2026 tersebut melibatkan seorang anak perempuan yang diketahui memiliki riwayat kontak dengan unggas.

WHO menyebut pasien mulai mengalami gejala pada 31 Mei 2026. Berdasarkan penyelidikan awal, anak tersebut memiliki paparan rutin terhadap unggas di lingkungan rumah serta pernah melakukan kontak dengan pasar unggas hidup.

Kasus ini menambah daftar infeksi H9N2 pada manusia yang terus dipantau otoritas kesehatan global. Sepanjang 2026, China telah mencatat sejumlah kasus H9N2 pada manusia, menunjukkan bahwa virus flu burung masih memiliki kemampuan berpindah dari hewan ke manusia.

H9N2 Masih Dikategorikan Virus Zoonosis

Virus avian influenza A(H9N2) merupakan salah satu jenis flu burung yang dapat menginfeksi manusia, meskipun hingga saat ini belum menunjukkan kemampuan penularan berkelanjutan antar manusia.

WHO menjelaskan bahwa sebagian besar kasus manusia terjadi setelah adanya kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi atau lingkungan yang telah terkontaminasi virus.

Meski tingkat penularan manusia ke manusia belum menjadi pola utama, setiap laporan infeksi baru tetap menjadi perhatian karena memberikan peluang bagi virus untuk mengalami perubahan atau mutasi.

Kasus H9N2 Terus Dipantau di Asia

Selain laporan dari Guangxi, otoritas kesehatan juga memantau kasus H9N2 di kawasan lain. Paparan pasar unggas hidup menjadi salah satu faktor risiko utama karena menjadi lokasi dengan intensitas interaksi tinggi antara manusia dan unggas.

Sejumlah negara di kawasan Asia meningkatkan kewaspadaan terhadap virus zoonosis, terutama dengan memperkuat pengawasan terhadap unggas, pasar tradisional, serta sistem pelaporan kasus penyakit menular.

Penguatan Pengawasan dan Biosekuriti

Para ahli kesehatan menilai pengendalian H9N2 membutuhkan pendekatan terpadu antara sektor kesehatan manusia dan kesehatan hewan.

Langkah pencegahan yang terus didorong meliputi peningkatan biosekuriti di peternakan, pemantauan populasi unggas, pengawasan pasar unggas hidup, serta edukasi masyarakat mengenai risiko kontak dengan unggas yang sakit atau mati mendadak.

Kasus H9N2 di Guangxi menjadi pengingat bahwa ancaman flu burung masih menjadi isu kesehatan global. Meskipun virus ini belum memiliki kemampuan penularan antarmanusia yang efisien, pemantauan ketat tetap diperlukan untuk mencegah munculnya perubahan virus yang dapat meningkatkan risiko kesehatan masyarakat di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *