Kontraktor Tiongkok Lanjutkan Warisan Cheng Ho di Semarang melalui Pembangunan Tol Tanggul Pertama
Viral Post — Semarang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kota pelabuhan penting di pesisir utara Pulau Jawa. Jejak hubungan maritim dengan Tiongkok telah berlangsung sejak berabad-abad lalu, termasuk melalui pelayaran Laksamana Zheng He atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai Cheng Ho.
Kini, hubungan sejarah tersebut kembali menjadi sorotan melalui keterlibatan kontraktor asal Tiongkok dalam pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak. Proyek tersebut dirancang tidak hanya sebagai infrastruktur transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir rob di kawasan pesisir Jawa Tengah.
Jalan Tol Semarang-Demak Integrasikan Transportasi dan Pengendalian Banjir
Proyek Jalan Tol Semarang-Demak menjadi salah satu pembangunan infrastruktur strategis di kawasan pantai utara Jawa. Pada ruas Semarang-Demak 1B, pembangunan dilakukan oleh China Road and Bridge Corporation (CRBC).
Manajer proyek Yue Zhenhong mengatakan tim bekerja dalam sistem sif selama 24 jam untuk mengejar pekerjaan konstruksi sebelum memasuki musim hujan.
Semarang dan Demak sama-sama berada di kawasan pesisir utara Jawa Tengah yang selama bertahun-tahun menghadapi persoalan kemacetan dan banjir rob. Kehadiran jalan tol diharapkan dapat mengurangi tekanan lalu lintas sekaligus membantu menangani persoalan genangan akibat pasang air laut.
Setelah seluruh proyek rampung, waktu tempuh perjalanan Semarang-Demak yang dalam kondisi lalu lintas padat dapat mencapai sekitar satu jam ditargetkan menjadi sekitar 10 menit. Pengurangan waktu perjalanan tersebut diharapkan memberikan dampak positif terhadap efisiensi logistik dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Tantangan Tanah Lunak dan Inovasi Konstruksi
Salah satu tantangan terbesar pembangunan proyek berada pada kondisi tanah di kawasan pesisir. Lapisan tanah lunak yang cukup dalam membutuhkan metode konstruksi khusus untuk meningkatkan daya dukung fondasi sekaligus menjaga stabilitas bangunan.
Tim proyek menerapkan sejumlah metode perawatan fondasi yang disesuaikan dengan kondisi geologi setempat. Di antaranya penggunaan tiang dan tikar bambu, papan drainase vertikal dan horizontal, serta metode prapembebanan.
Pemanfaatan material lokal seperti bambu juga disebut menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi penggunaan material dengan emisi karbon tinggi.
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir membutuhkan perpaduan antara teknologi konstruksi, pemahaman kondisi tanah, serta pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar lokasi proyek.
Libatkan dan Kembangkan Tenaga Kerja Lokal
Selain pembangunan fisik, proyek tersebut juga menjadi ruang bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
Selama beroperasi di Indonesia, CRBC telah terlibat dalam berbagai proyek infrastruktur dan memberikan kesempatan kepada tenaga kerja lokal untuk memperoleh pengalaman dalam bidang teknik serta manajemen proyek.
Muhammad Rizky Pradana, seorang insinyur muda berusia 26 tahun, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui penerapan standar manajemen mutu yang ketat dalam proyek tersebut.
Menurutnya, proses bekerja bersama tenaga ahli asal Tiongkok memberikan kesempatan untuk mempelajari keterampilan profesional dan metode manajemen proyek yang sebelumnya belum banyak dikuasainya.
Hal serupa dirasakan Mochamad Zumar Habibi, yang telah bekerja di CRBC selama sekitar satu dekade. Pengalaman tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan profesionalnya, tetapi juga memberikan dampak terhadap kehidupan keluarganya.
Sentuhan Sosial untuk Masyarakat Sekitar
Pembangunan proyek juga disertai sejumlah kegiatan sosial bagi masyarakat di sekitar lokasi.
Kumaidi, salah seorang perangkat desa setempat, menceritakan bahwa wilayahnya telah lama menghadapi persoalan banjir rob. Air laut bahkan disebut dapat meluap hingga mendekati satu meter dan mengganggu akses masyarakat.
Sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat, tim proyek CRBC membantu meninggikan jalan pedesaan sepanjang hampir 5 kilometer hingga sekitar 1 meter. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan fungsi jalan sebagai akses sekaligus membantu menghadapi ancaman banjir.
Tim proyek juga memasang lampu jalan di sejumlah titik strategis untuk meningkatkan penerangan di kawasan yang sebelumnya minim pencahayaan pada malam hari.
Dari Jejak Cheng Ho hingga Kerja Sama Modern
Sejarah Semarang dan hubungan maritim dengan Tiongkok menjadi latar yang menarik dalam perkembangan proyek tersebut. Nama Zheng He atau Cheng Ho telah lama melekat dalam sejarah hubungan antara masyarakat di kawasan Nusantara dan Tiongkok.
Kehadiran perusahaan konstruksi Tiongkok dalam pembangunan infrastruktur modern menunjukkan bentuk hubungan yang berbeda pada era sekarang, yakni melalui kerja sama ekonomi, teknologi, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia.
Jalan Tol Semarang-Demak diharapkan tidak hanya memperlancar konektivitas antara dua wilayah, tetapi juga memberikan manfaat dalam pengendalian banjir, efisiensi logistik, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan pesisir Jawa Tengah.
