Heat Dome Landa Eropa, Suhu Capai 46 Derajat Celsius, Rekor Cuaca Runtuh di Sejumlah Negara
BRUSSELS – Gelombang panas ekstrem yang dipicu fenomena heat dome atau kubah panas melanda sebagian besar kawasan Eropa pada akhir Juni 2026, mendorong suhu hingga 46 derajat Celsius di sejumlah wilayah dan memicu krisis kesehatan, energi, pendidikan, hingga transportasi.
Fenomena atmosfer yang dikenal sebagai Omega Block itu menyebabkan massa udara panas terperangkap di atas Eropa Barat dan Tengah selama beberapa hari, sehingga suhu permukaan meningkat jauh di atas normal. Para meteorolog menyebut kenaikan suhu di beberapa wilayah mencapai 15 hingga 18 derajat Celsius di atas rata-rata musiman.
Prancis Pecahkan Rekor Suhu Nasional
Prancis menjadi salah satu negara yang terdampak paling parah. Pada 23 Juni 2026, suhu di Pissos, wilayah Landes, mencapai 44,3 derajat Celsius, menjadi salah satu suhu tertinggi yang pernah tercatat di negara tersebut.
Paris juga mencatat suhu 40,9 derajat Celsius, memecahkan rekor untuk bulan Juni.
Pemerintah Prancis menetapkan puluhan departemen dalam status siaga merah akibat panas ekstrem. Gelombang panas juga berdampak pada keselamatan masyarakat, dengan puluhan korban jiwa dilaporkan akibat tenggelam ketika berusaha mencari kesejukan di sungai dan danau.
Selain itu, sejumlah korban meninggal akibat penyakit yang dipicu suhu tinggi, sementara ratusan sekolah ditutup dan jam operasional berbagai fasilitas publik dibatasi.
Reaktor Nuklir Ditutup
Krisis panas turut memengaruhi sektor energi.
Perusahaan listrik negara Prancis EDF menghentikan operasional salah satu reaktor di PLTN Golfech karena suhu Sungai Garonne yang digunakan sebagai air pendingin diperkirakan melampaui batas lingkungan yang diizinkan.
Pengurangan produksi juga dilakukan di beberapa pembangkit lainnya sehingga kapasitas listrik nuklir nasional mengalami penurunan sementara.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan kondisi iklim mulai memberikan tekanan terhadap infrastruktur energi yang selama ini dianggap paling stabil.
Spanyol Catat Suhu 46 Derajat Celsius
Di Spanyol, suhu mencapai 46 derajat Celsius di wilayah El Granado, Andalusia, menjadi salah satu suhu tertinggi yang pernah tercatat pada bulan Juni.
Badan Meteorologi Nasional Spanyol (AEMET) mengeluarkan peringatan bahaya tertinggi untuk sejumlah wilayah, termasuk Cordoba dan sekitarnya.
Gelombang panas menyebabkan sejumlah korban akibat sengatan panas, memicu kebakaran hutan, serta mengganggu layanan kereta cepat yang menghubungkan Madrid dan Barcelona.
Italia dan Inggris Ikut Terdampak
Italia menetapkan status siaga merah di berbagai kota besar seperti Roma, Milan, Florence, Turin, dan Verona.
Kementerian Kesehatan Italia memperingatkan meningkatnya fenomena malam tropis, yaitu kondisi ketika suhu malam hari tetap berada di atas 25 derajat Celsius sehingga tubuh manusia sulit melakukan pemulihan dari paparan panas siang hari.
Di Inggris, suhu mencapai 36,1 derajat Celsius, memecahkan rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni.
Badan Meteorologi Inggris (Met Office) mengeluarkan peringatan panas tingkat tertinggi. Dampaknya meluas mulai dari penutupan sekolah, gangguan layanan kereta api, hingga pembatalan berbagai kegiatan luar ruangan.
Dampak Meluas ke Berbagai Negara
Jerman, Belgia, Portugal, Swiss, dan Luksemburg juga melaporkan suhu ekstrem disertai berbagai gangguan.
Di Jerman, panas tinggi menyebabkan kerusakan pada sebagian ruas jalan tol dan memicu insiden cuaca ekstrem saat kegiatan luar ruangan. Portugal memperkirakan suhu mencapai 42 derajat Celsius, sementara Swiss dan Luksemburg mengeluarkan peringatan merah bagi masyarakat.
Para ilmuwan menilai Eropa kini menjadi salah satu kawasan dengan laju pemanasan tercepat di dunia, dengan peningkatan suhu yang lebih cepat dibanding rata-rata global.
Krisis Iklim Semakin Nyata
Fenomena heat dome Juni 2026 memperlihatkan besarnya dampak cuaca ekstrem terhadap kehidupan masyarakat modern.
Mulai dari meningkatnya angka kematian, terganggunya sistem kesehatan, lumpuhnya transportasi, penurunan produksi energi, hingga penutupan sekolah, seluruhnya menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan tantangan nyata yang sedang dihadapi banyak negara.
Para pakar iklim menegaskan bahwa peningkatan emisi gas rumah kaca selama beberapa dekade telah meningkatkan kemungkinan dan intensitas gelombang panas ekstrem. Mereka mengingatkan bahwa tanpa upaya mitigasi dan adaptasi yang lebih kuat, kejadian serupa diperkirakan akan semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia.
