Paris Larang Konsumsi Alkohol di Tempat Umum Saat Gelombang Panas Ekstrem, Rumah Sakit Kewalahan Hadapi Lonjakan Pasien
PARIS – Pemerintah Kota Paris memberlakukan larangan konsumsi alkohol di tempat umum sebagai langkah darurat menghadapi gelombang panas ekstrem yang melanda ibu kota Prancis. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada Jumat (26/6/2026) hingga Minggu (28/6/2026), setelah suhu udara menembus rekor 40,9 derajat Celsius dan membebani sistem layanan kesehatan.
Kepolisian Paris mengumumkan larangan konsumsi minuman beralkohol di jalanan, taman, serta ruang publik lainnya mulai pukul 12.00 hingga 07.00 waktu setempat. Penjualan alkohol untuk dibawa pulang (takeaway) juga dilarang mulai pukul 18.00 hingga 07.00 selama dua malam berturut-turut.
Kebijakan tersebut diambil menyusul gelombang panas yang memecahkan rekor suhu di Paris. Pada Rabu (24/6/2026), suhu mencapai 40,9 derajat Celsius, sebelum kembali mendekati 40 derajat Celsius sehari kemudian.
Rumah Sakit Capai Titik Jenuh
Kepala Kepolisian Paris, Patrice Faure, mengatakan keputusan tersebut diambil karena rumah sakit di ibu kota telah mencapai kapasitas maksimal.
Menurutnya, lonjakan pasien akibat dehidrasi, sengatan panas, gangguan pernapasan, hingga serangan jantung membuat layanan kesehatan berada dalam tekanan yang sangat besar.
Menteri Kesehatan Prancis, Stéphanie Rist, mengungkapkan bahwa layanan ambulans di Paris mencatat peningkatan hingga empat kali lipat kasus henti jantung dalam 24 jam dibandingkan kondisi normal.
Ia juga memperingatkan bahwa cuaca ekstrem kini tidak hanya mengancam kelompok lanjut usia, tetapi juga masyarakat usia muda yang sebelumnya sehat.
Restoran dan Kafe Dikecualikan
Larangan tersebut tidak berlaku bagi restoran, kafe, maupun tempat usaha yang menyediakan layanan makan di lokasi.
Pemerintah berharap pembatasan konsumsi alkohol di ruang publik dapat mengurangi gangguan ketertiban sekaligus menekan jumlah keadaan darurat medis selama gelombang panas berlangsung.
Status kewaspadaan kesehatan nasional juga dinaikkan ke tingkat tertinggi guna memastikan kesiapan tenaga medis, ambulans, dan perlindungan bagi kelompok rentan.
Sekolah Ditutup, Ikon Wisata Kurangi Jam Operasional
Sebagai bagian dari langkah mitigasi, pemerintah menutup sejumlah sekolah dan membuka taman kota selama 24 jam agar masyarakat memiliki tempat berteduh dari suhu tinggi.
Berbagai acara publik dibatalkan atau ditunda, termasuk pawai kebanggaan (Pride March) di Paris.
Dua destinasi wisata paling terkenal di Prancis, Menara Eiffel dan Museum Louvre, juga memangkas jam operasional demi mengurangi risiko terhadap pengunjung maupun pekerja.
Korban Jiwa dan Dampak Ekonomi
Gelombang panas ekstrem telah menimbulkan korban jiwa di berbagai wilayah Prancis.
Sedikitnya 48 orang dilaporkan meninggal akibat tenggelam ketika berusaha mendinginkan diri di sungai, danau, maupun pantai.
Selain itu, tiga anak kecil meninggal dunia akibat terjebak di dalam mobil yang terpapar suhu tinggi.
Di wilayah Rennes, sejumlah kematian di rumah warga juga diduga berkaitan dengan cuaca ekstrem.
Wakil Wali Kota Paris, Emmanuel Grégoire, menyatakan angka kematian di ibu kota terus menunjukkan peningkatan sejak gelombang panas dimulai.
Dampak juga dirasakan sektor energi dan pertanian. Beberapa reaktor nuklir dihentikan sementara karena suhu air sungai yang digunakan sebagai pendingin meningkat di atas batas aman.
Di sektor peternakan, ratusan ribu unggas mati akibat suhu yang sangat tinggi di wilayah Brittany dan Pays de la Loire.
Sementara itu, badan meteorologi Météo-France melaporkan suhu minimum pada malam hari tetap berada di atas 22 derajat Celsius, bahkan mencapai 27,2 derajat Celsius di Kota Nantes, sehingga masyarakat tidak memperoleh pendinginan alami pada malam hari.
Krisis Iklim Menjadi Ancaman Nyata
Gelombang panas yang melanda Prancis merupakan bagian dari cuaca ekstrem yang juga terjadi di Jerman, Inggris, Swiss, Belgia, Belanda, dan sejumlah negara Eropa lainnya.
Kepala Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Simon Stiell, menyatakan gelombang panas yang melanda Eropa menunjukkan jejak yang sangat jelas dari krisis iklim global.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa penguatan infrastruktur kesehatan, sistem peringatan dini, serta kebijakan adaptasi terhadap perubahan iklim, gelombang panas ekstrem diperkirakan akan semakin sering terjadi dengan dampak yang lebih luas terhadap kesehatan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.
