Juni 24, 2026

Kasus Ebola di Kongo Tembus 1.003, 254 Meninggal, Dua Kasus Suspek Muncul di Israel

0
IMG-20260622-WA0024

Kinshasa, Republik Demokratik Kongo — Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus menjadi perhatian dunia setelah jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 1.003 kasus hingga Minggu (21/6/2026). Dari jumlah tersebut, sebanyak 254 orang dilaporkan meninggal dunia dengan angka kematian atau case fatality rate (CFR) mencapai 25,3 persen.

Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo menyebut wabah yang mulai terdeteksi sejak 15 Mei 2026 tersebut juga mencatat 100 pasien telah dinyatakan sembuh, sementara 365 pasien lainnya masih menjalani isolasi maupun perawatan medis.

Menteri Kesehatan Kongo Roger Kamba mengatakan pemerintah bersama tim tanggap darurat terus memperkuat upaya pengendalian melalui penyelidikan epidemiologi, pelacakan kontak, pemantauan kasus, serta langkah pencegahan di wilayah terdampak.

Tiga wilayah yang menjadi perhatian utama yakni Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Namun, pengendalian wabah masih menghadapi tantangan besar karena tingkat pelacakan kontak di wilayah terdampak baru mencapai sekitar 58 persen.

Para peneliti dari lembaga kesehatan Uganda dan Kongo mengidentifikasi bahwa virus Ebola yang saat ini beredar merupakan galur Bundibugyo. Virus tersebut diduga berasal dari penularan baru dari satwa liar kepada manusia dan bukan merupakan kelanjutan dari wabah lama yang tersembunyi.

Berbeda dengan beberapa jenis Ebola sebelumnya, varian Bundibugyo hingga saat ini belum memiliki vaksin maupun terapi khusus yang telah mendapat persetujuan resmi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) memperingatkan bahwa apabila penyebaran tidak segera dikendalikan, wabah ini berpotensi menjadi lebih buruk dibandingkan epidemi Ebola Afrika Barat pada periode 2014–2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC) pada Mei 2026. WHO menilai risiko penyebaran kawasan masih menjadi perhatian serius.

Kekhawatiran penyebaran lintas negara meningkat setelah Israel melaporkan dua kasus suspek Ebola pada akhir pekan lalu. Kedua pasien diketahui baru kembali dari Kongo dan mengalami sejumlah gejala seperti demam, sakit kepala, hingga gangguan pencernaan.

Salah satu pasien menjalani isolasi di Sheba Tel Hashomer Medical Center setelah menunjukkan gejala usai kembali dari wilayah terdampak. Pasien lainnya juga mendapatkan pengawasan medis sesuai protokol penyakit menular berbahaya.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap kedua pasien tersebut masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari otoritas kesehatan.

Selain ancaman terhadap masyarakat umum, WHO juga menyoroti risiko besar terhadap tenaga kesehatan. Berdasarkan laporan WHO, sebanyak 75 tenaga kesehatan di Kongo telah terinfeksi Ebola dan 17 di antaranya meninggal dunia.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perlindungan tenaga medis, ketersediaan alat pelindung diri (APD), serta penerapan protokol pencegahan dan pengendalian infeksi secara ketat di fasilitas kesehatan.

Wabah Ebola Kongo yang telah melampaui angka 1.000 kasus dengan ratusan kematian menjadi alarm bagi komunitas internasional. Dengan tantangan berupa keterbatasan pelacakan kontak, belum tersedianya vaksin khusus untuk varian Bundibugyo, serta hambatan akses di wilayah konflik, pengendalian wabah membutuhkan kerja sama global yang lebih kuat.

Peningkatan kapasitas laboratorium, penguatan sistem kesehatan, dan respons cepat lintas negara menjadi faktor penting untuk mencegah wabah ini berkembang menjadi krisis kesehatan global yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *