Harga Minyak Anjlok 5 Persen ke Level Terendah Tiga Bulan Usai AS-Iran Sepakat Damai
Jakarta – Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai yang membuka harapan normalisasi perdagangan energi global.
Pada perdagangan Senin (15/6/2026), harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun sekitar 5 persen seiring investor menghapus premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus turun sekitar 4,76 persen menjadi US$83,17 per barel. Sementara minyak WTI melemah sekitar 4,87 persen ke level US$80,75 per barel.
Level tersebut menjadi penutupan terendah dalam tiga bulan terakhir setelah konflik AS-Iran sebelumnya mendorong kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Kesepakatan Damai Buka Kembali Jalur Selat Hormuz
Pasar energi merespons positif pengumuman kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang mencakup penghentian permusuhan serta rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis dunia yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global.
Selama ketegangan berlangsung, risiko gangguan di kawasan tersebut membuat harga energi meningkat karena investor khawatir terhadap kelancaran distribusi minyak dunia.
Dengan adanya peluang stabilitas kawasan, investor mulai memperkirakan pasokan minyak akan kembali normal sehingga tekanan harga mulai mereda.
Investor Kembali Lepas Aset Aman
Penurunan harga minyak menunjukkan perubahan sentimen pasar global. Sebelumnya, investor banyak mengalihkan dana ke aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Setelah muncul tanda-tanda perdamaian, sebagian dana mulai kembali masuk ke aset berisiko seperti saham dan komoditas lainnya.
Sejumlah analis menilai aksi jual minyak merupakan respons pasar terhadap kemungkinan meningkatnya pasokan energi dalam beberapa waktu ke depan.
Proyeksi Harga Minyak Mulai Direvisi
Sejumlah lembaga keuangan mulai menyesuaikan perkiraan harga minyak dengan asumsi jalur perdagangan internasional kembali berjalan normal.
Potensi masuknya kembali pasokan minyak Iran ke pasar global menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor.
Namun, proses normalisasi pasokan tidak diperkirakan berlangsung instan. Pembukaan jalur pelayaran, kesiapan perusahaan pengiriman, hingga pemulihan fasilitas produksi tetap menjadi faktor yang harus diperhatikan.
Dampak bagi Ekonomi Indonesia
Penurunan harga minyak dunia menjadi sentimen positif bagi sejumlah negara importir energi, termasuk Indonesia.
Harga energi yang lebih rendah dapat membantu mengurangi tekanan inflasi serta memberikan ruang bagi pemerintah dalam mengelola kebijakan energi nasional.
Meski demikian, pasar tetap mencermati perkembangan lanjutan kesepakatan AS-Iran karena ketidakpastian geopolitik masih dapat kembali memengaruhi harga minyak dunia.
Jika proses perdamaian berjalan konsisten, pasar energi global berpotensi memasuki fase stabilitas baru. Namun apabila terjadi hambatan dalam implementasi kesepakatan, risiko kenaikan harga minyak masih tetap terbuka.
