Tinggalkan Karier di Jakarta, Haryo Pilih Pulang Kampung dan Kembangkan Peternakan Keluarga Berusia 25 Tahun
VIRAL POST – Di tengah arus urbanisasi yang mendorong banyak anak muda mengejar karier di kota-kota besar, Haryo mengambil jalan yang berbeda. Setelah sempat bekerja di perusahaan besar di Jakarta dengan prospek karier yang menjanjikan, ia memutuskan kembali ke kampung halaman untuk melanjutkan usaha peternakan keluarga yang telah dirintis sejak 1999.
Keputusan tersebut bukanlah langkah mundur, melainkan bentuk tanggung jawab untuk menjaga sekaligus mengembangkan usaha yang telah dibangun orang tuanya selama lebih dari dua dekade.
Usaha yang dikenal dengan nama Bangkit Ternak itu kini menjadi salah satu contoh bagaimana peternakan rakyat dapat berkembang melalui pendekatan modern, efisien, dan berkelanjutan.
Berbekal latar belakang pendidikan sarjana akuntansi, Haryo membawa perspektif baru dalam mengelola usaha peternakan keluarga. Ia tidak hanya fokus pada aspek produksi, tetapi juga menerapkan prinsip-prinsip manajemen keuangan, pencatatan biaya, pengelolaan risiko, hingga perencanaan usaha jangka panjang.
“Peternakan bukan hanya soal memelihara sapi. Ada banyak aspek yang harus diperhitungkan agar usaha tetap sehat dan berkelanjutan,” menjadi prinsip yang diterapkan dalam pengelolaan usaha tersebut.
Membangun Sistem Peternakan Terintegrasi
Salah satu hal yang membedakan Bangkit Ternak adalah penerapan konsep integrated farm atau peternakan terintegrasi. Dalam sistem ini, hampir seluruh sumber daya yang dihasilkan dimanfaatkan kembali sehingga menciptakan efisiensi dan nilai tambah ekonomi.
Di kawasan usaha tersebut, tidak hanya terdapat peternakan sapi, tetapi juga unit produksi tahu, pengolahan pupuk organik, penyediaan bibit tanaman, hingga pemanfaatan energi biogas.
Kotoran sapi yang dihasilkan setiap hari diolah menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan kembali untuk pertanian. Sementara itu, gas metana dari limbah ternak dimanfaatkan sebagai energi biogas untuk mendukung kegiatan produksi tahu.
Menariknya, ampas tahu yang dihasilkan kemudian digunakan kembali sebagai pakan ternak. Siklus tersebut menciptakan sistem usaha yang saling terhubung dan meminimalkan limbah yang terbuang.
Model seperti ini dinilai menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi sirkular di sektor peternakan, di mana setiap hasil sampingan dapat diolah kembali menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi.
Tidak Selalu Berjalan Mulus
Meski kini berkembang, perjalanan Bangkit Ternak tidak lepas dari berbagai tantangan. Haryo mengakui bahwa usaha peternakan memiliki risiko yang besar, mulai dari fluktuasi harga pakan, penyakit ternak, hingga kematian sapi yang dapat menyebabkan kerugian signifikan.
Dalam perjalanan usahanya, peternakan tersebut pernah mengalami masa sulit ketika banyak ternak mati dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.
Saat ini populasi sapi di Bangkit Ternak mencapai sekitar 600 ekor, sementara kapasitas kandang yang tersedia mampu menampung hingga 1.000 ekor ternak.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan usaha peternakan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah ternak yang dimiliki, tetapi juga kemampuan mengelola risiko, menjaga kesehatan ternak, mengatur pakan secara efisien, dan mempertahankan stabilitas usaha dalam jangka panjang.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Desa
Bagi Haryo, tujuan menjalankan usaha peternakan tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi. Ia meyakini bahwa sektor peternakan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional yang dimulai dari tingkat keluarga dan komunitas lokal.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kemandirian pangan dan keberlanjutan lingkungan, kisah Bangkit Ternak menunjukkan bahwa desa masih menyimpan banyak peluang bagi generasi muda yang berani kembali dan membangun.
Keputusan pulang kampung yang diambil Haryo menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak selalu harus dicapai di pusat-pusat kota besar. Terkadang, peluang terbesar justru berada di tempat asal, ketika ilmu, pengalaman, dan semangat inovasi dipadukan untuk mengembangkan potensi lokal.
Lebih dari sekadar bisnis, Bangkit Ternak menjadi gambaran tentang bagaimana usaha keluarga dapat diwariskan lintas generasi dan terus berkembang melalui adaptasi terhadap perubahan zaman tanpa meninggalkan akar yang telah dibangun sejak awal.
