Agustus 23, 2026

Prabowo Apresiasi Capaian Danantara: 250 Entitas BUMN Disederhanakan, Bank Emas Kelola 153 Ton

0
IMG-20260722-WA0003

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto memberikan apresiasi terhadap sejumlah capaian yang disampaikan dalam taklimat terkait transformasi pengelolaan aset negara dan badan usaha milik negara (BUMN) dalam Rapat Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026).

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah langkah strategis menjadi perhatian, mulai dari penataan dan konsolidasi entitas BUMN, pengelolaan ekspor komoditas strategis melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), hingga perkembangan ekosistem bank emas atau bullion bank di Indonesia.

Salah satu capaian yang disoroti adalah program streamlining atau penyederhanaan struktur BUMN. Hingga Juli 2026, sekitar 250 entitas disebut telah disederhanakan melalui berbagai skema, termasuk penutupan, penggabungan, maupun konsolidasi.

Langkah tersebut dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi biaya operasional yang tidak produktif. Dalam taklimatnya, Prabowo menyebut penghematan biaya rutin dari proses penataan tersebut dapat mencapai sekitar Rp50 triliun.

“Dengan ditutupnya 250 BUMN, overhead, biaya rutin yang bisa diselamatkan adalah Rp50 triliun. Gaji direksi, gaji komisaris, sewa gedung, bayar listrik, bayar transpor, bayar ini rapat kerja, Rp50 triliun,” ujar Prabowo dalam sidang tersebut.

Penyederhanaan struktur BUMN menjadi bagian dari agenda reformasi perusahaan negara yang diarahkan untuk menciptakan entitas yang lebih efisien, sehat, profesional, dan memiliki daya saing.

Pemerintah sebelumnya menargetkan penataan jumlah entitas BUMN secara signifikan melalui proses konsolidasi dan penggabungan usaha. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi tumpang tindih fungsi sekaligus memperkuat kapasitas perusahaan negara dalam menghadapi persaingan ekonomi global.

Pengelolaan Devisa Komoditas Jadi Sorotan

Selain penataan BUMN, Presiden juga menyoroti keberadaan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang diarahkan menjadi lembaga pengelola ekspor komoditas strategis secara lebih terintegrasi.

Dalam taklimat tersebut, DSI disebut telah mengelola devisa sekitar US$10,5 miliar dalam waktu sekitar satu setengah bulan sejak beroperasi.

Capaian tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat tata kelola perdagangan komoditas strategis sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara.

Prabowo juga menyinggung pentingnya mencegah potensi kebocoran penerimaan dari aktivitas perdagangan internasional, termasuk praktik under invoicing maupun skema transfer pricing yang berpotensi mengurangi nilai penerimaan negara.

Dengan pengelolaan yang lebih terintegrasi, pemerintah berharap nilai ekonomi dari sumber daya alam Indonesia dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global. Indonesia diharapkan tidak hanya berperan sebagai negara penghasil komoditas, tetapi juga mampu meningkatkan nilai tambah, tata kelola, serta manfaat ekonomi yang diperoleh dari kekayaan sumber daya alam.

Bank Emas Kelola Ratusan Ton Emas

Capaian lain yang turut mendapat perhatian adalah perkembangan ekosistem bank emas atau bullion bank di Indonesia.

Prabowo menyebut bahwa dalam tahun pertama pengembangan ekosistem tersebut, pengelolaan emas telah mencapai sekitar 153 ton. Angka itu menggambarkan meningkatnya aktivitas masyarakat dan pelaku usaha dalam memanfaatkan emas melalui sistem keuangan formal.

“Indonesia punya bank emas, bullion, yang sekarang sudah mengelola 153 ton emas,” kata Prabowo.

Pengembangan bank emas menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengoptimalkan potensi emas domestik yang selama ini banyak tersimpan di masyarakat.

Melalui ekosistem bullion, emas diharapkan dapat dimanfaatkan lebih produktif melalui berbagai layanan, seperti tabungan emas, perdagangan emas, pembiayaan berbasis emas, hingga instrumen investasi.

Di Indonesia, pengembangan layanan tersebut melibatkan lembaga keuangan yang memiliki produk berbasis emas. Ekosistem ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada mekanisme pengelolaan emas di luar sistem keuangan formal sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Besarnya potensi emas yang dimiliki Indonesia menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong penguatan ekosistem bullion. Dengan pengelolaan yang transparan dan profesional, aset emas yang berada di masyarakat diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar.

Transformasi BUMN dan Aset Negara

Berbagai capaian tersebut menunjukkan arah transformasi yang sedang didorong pemerintah dalam pengelolaan aset negara.

Penataan BUMN diarahkan untuk menciptakan struktur perusahaan yang lebih ramping dan efisien. Sementara itu, pengelolaan komoditas strategis dan pengembangan ekosistem bank emas diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dari sumber daya yang dimiliki Indonesia.

Bagi pemerintah, transformasi tersebut bukan hanya persoalan efisiensi administratif, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat kemandirian ekonomi nasional.

Efisiensi biaya operasional BUMN diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perusahaan negara dalam berinvestasi dan mengembangkan bisnis produktif. Di sisi lain, optimalisasi pengelolaan sumber daya alam dan aset masyarakat diharapkan dapat memperkuat penerimaan serta memperluas basis pembiayaan ekonomi.

Dalam konteks persaingan global yang semakin ketat, penguatan perusahaan negara dan optimalisasi aset nasional menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.

Danantara Didorong Perkuat Nilai Tambah Ekonomi

Apresiasi Presiden Prabowo terhadap berbagai capaian tersebut sekaligus menjadi dorongan agar agenda transformasi terus dilanjutkan dengan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada hasil.

Pengelolaan aset negara membutuhkan pengawasan yang kuat agar setiap kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi kepentingan publik. Efisiensi harus diikuti dengan peningkatan produktivitas, sementara konsolidasi perusahaan negara harus mampu menghasilkan kinerja yang lebih baik.

Begitu pula dengan pengelolaan komoditas strategis dan pengembangan bank emas. Potensi ekonomi yang besar harus dikelola dengan prinsip profesionalisme, transparansi, dan tata kelola yang baik agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.

Dengan berbagai agenda tersebut, transformasi yang dilakukan pemerintah melalui penataan BUMN, penguatan pengelolaan komoditas, dan pengembangan ekosistem bullion menjadi bagian dari strategi besar untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Capaian yang disampaikan dalam Rapat Kabinet Paripurna tersebut menjadi penanda bahwa agenda reformasi pengelolaan aset negara terus bergerak. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap langkah transformasi menghasilkan peningkatan produktivitas, memperkuat daya saing nasional, serta memberikan manfaat nyata bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *