Juli 14, 2026

Krisis Selat Hormuz Guncang Perdagangan Global, Lebih dari 1.200 Kapal dan Aset Senilai 125 Miliar Dolar AS Terdampak

0
IMG-20260625-WA0091

LONDON – Konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah memicu gangguan besar terhadap perdagangan internasional setelah penutupan Selat Hormuz menghambat arus pelayaran global. Laporan terbaru Allianz Commercial yang dirilis pada 24 Juni 2026 menyebutkan lebih dari 1.200 kapal dengan nilai kapal dan muatan diperkirakan mencapai 125 miliar dolar AS terdampak akibat krisis tersebut.

Berdasarkan laporan yang dikutip Financial Times, hingga pertengahan Juni 2026 sekitar 1.150 kapal kargo dengan total bobot sekitar 29 juta gross ton berada dalam kondisi terdampak, sementara sekitar 20.000 pelaut ikut merasakan dampak langsung akibat terganggunya aktivitas pelayaran di salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia.

Selat Hormuz merupakan koridor pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi jalur utama distribusi energi global. Sebelum konflik, rata-rata sekitar 135 kapal melintas setiap hari melalui selat tersebut, mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Gangguan terhadap jalur pelayaran ini sempat mendorong harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel, meningkatkan biaya logistik internasional, mengganggu jadwal pengiriman barang, serta memperbesar risiko operasional bagi industri pelayaran dan perusahaan asuransi.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) juga melaporkan bahwa konflik di kawasan tersebut menyebabkan korban jiwa di sektor pelayaran, dengan sedikitnya 14 pelaut dilaporkan meninggal dunia serta lebih dari 40 kapal mengalami serangan, sebagian besar merupakan kapal tanker pengangkut minyak.

Kepala Underwriting Maritim Allianz Commercial, Justus Heinrich, menilai krisis tersebut mengubah secara mendasar cara industri memandang risiko pada jalur-jalur pelayaran strategis.

Menurutnya, skenario yang sebelumnya hanya dipandang sebagai risiko teoritis kini menjadi kenyataan yang harus dihadapi oleh industri pelayaran global.

Senada dengan itu, Chief Executive Officer Allianz Commercial Thomas Lillelund menyatakan industri pelayaran kini memasuki era baru yang ditandai meningkatnya kompleksitas geopolitik, sehingga aspek ketahanan rantai pasok menjadi sama pentingnya dengan efisiensi operasional.

Pemulihan Mulai Terlihat

Aktivitas pelayaran mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah diumumkannya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Data Lloyd’s List Intelligence menunjukkan sebanyak 69 kapal keluar dari Teluk Persia pada pekan yang berakhir 21 Juni 2026, meningkat signifikan dibandingkan 24 kapal pada pekan sebelumnya.

Meski demikian, pelaku industri memperkirakan perubahan pola distribusi logistik akan terus berlangsung. Sejumlah perusahaan mulai mempertimbangkan jalur alternatif melalui Teluk Oman, Laut Merah, hingga transportasi darat guna mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

Perusahaan logistik global Kuehne+Nagel memperkirakan sekitar 300.000 kontainer standar (TEU) masih tertahan di kawasan tersebut, sementara jalur alternatif menghadapi tekanan akibat meningkatnya volume pengiriman.

Selain dampak ekonomi, laporan Allianz juga menyoroti persoalan kemanusiaan yang dialami para pelaut. Sekitar 11.000 awak kapal dilaporkan berupaya meninggalkan kawasan Teluk melalui koridor evakuasi yang dikoordinasikan oleh Oman.

Rantai Pasok Global Hadapi Tantangan Baru

Krisis Selat Hormuz dinilai menjadi salah satu gangguan terbesar terhadap rantai pasok global dalam beberapa tahun terakhir. Penutupan salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia menunjukkan betapa rentannya sistem logistik internasional terhadap konflik geopolitik.

Industri pelayaran kini menghadapi tantangan baru berupa meningkatnya biaya asuransi, diversifikasi rute perdagangan, serta kebutuhan memperkuat ketahanan rantai pasok dalam menghadapi ketidakpastian global.

Laporan Allianz menilai dunia mulai bergeser dari pendekatan “just-in-time” menuju “just-in-case”, di mana perusahaan lebih mengutamakan ketahanan distribusi dibandingkan efisiensi semata guna mengantisipasi gangguan serupa pada masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *