Kopi Gayo Dikembangkan di 17 Ribu Hektare dengan 17 Juta Bibit, Mentan Amran Targetkan Pendapatan Petani Rp4 Triliun
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau langsung lokasi produksi benih Kopi Arabika di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa (14/7/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat sektor perkebunan sekaligus mendorong pengembangan kopi Gayo sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia yang memiliki daya saing di pasar internasional.
Dalam kunjungan tersebut, Amran didampingi Wakil Gubernur Aceh Fadullah. Selain meninjau pengembangan kopi, Amran juga menyerahkan bantuan senilai Rp1 miliar untuk membantu perbaikan sejumlah masjid di Kabupaten Bener Meriah yang mengalami kerusakan akibat bencana. Bantuan tersebut berasal dari dana pribadi Amran bersama kolega dan jajaran Kementerian Pertanian.
Amran mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan program pengembangan kopi di Aceh dengan cakupan lahan sekitar 17 ribu hektare dan total 17 juta batang bibit kopi. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi para petani.
“Kopi, kita tanam kopi, laporannya Pak Bupati tadi itu bisa meningkatkan pendapatan petani, pekebun di sini Rp4 triliun. Itu kita berikan 17 ribu hektare, dengan jumlah batang 17 juta kopi untuk seluruh Aceh,” jelas Amran.
Pengembangan komoditas kopi Gayo dinilai memiliki prospek ekonomi yang besar. Selain meningkatkan produksi, pemerintah juga mendorong penguatan tata kelola perdagangan dan ekspor agar nilai tambah komoditas tersebut semakin banyak dinikmati petani.
Amran menyoroti pentingnya penguatan kebijakan ekspor kopi Gayo melalui tata kelola yang lebih terintegrasi. Menurutnya, langkah tersebut dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan kopi global sekaligus meningkatkan daya tawar komoditas kopi nasional di pasar internasional.
Harga kopi Gayo di tingkat petani saat ini disebut telah mencapai sekitar Rp110 ribu per kilogram, meningkat signifikan dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram. Kenaikan harga tersebut menjadi indikator positif bagi peningkatan kesejahteraan petani, meskipun keberlanjutannya tetap membutuhkan dukungan terhadap kualitas produksi, produktivitas, dan kepastian pasar.
Amran juga menargetkan nilai ekspor kopi Indonesia yang saat ini berada di kisaran Rp40 triliun dapat terus meningkat hingga mencapai Rp100 triliun, bahkan berpotensi menembus Rp200 triliun dalam beberapa tahun mendatang.
“Ekspor kita sudah mencapai nilainya Rp40 triliun. Kalau bisa kita tingkatkan sampai Rp100 triliun ke depan, bila perlu Rp200 triliun. Itu pasti bisa,” ujarnya.
Besarnya potensi kopi Gayo juga tercermin dari pengakuan terhadap kualitasnya di tingkat internasional. Amran mengungkapkan pengalamannya ketika bertemu mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dalam sebuah kunjungan ke Meksiko dan Argentina. Menurut Amran, kopi Gayo menjadi salah satu topik yang turut dibicarakan dalam pertemuan tersebut.
“Waktu kami kunjungan ke Meksiko dan Argentina, ketemu Bill Clinton. Yang dibahas adalah kopi Gayo. Di situ saya terharu,” ungkapnya.
Bagi Indonesia, pengakuan terhadap kopi Gayo menjadi modal penting untuk memperkuat branding kopi nasional di pasar global. Namun, peningkatan nilai ekspor tidak hanya bergantung pada popularitas produk, melainkan juga membutuhkan konsistensi kualitas, produktivitas perkebunan, keberlanjutan lingkungan, penguatan kelembagaan petani, serta sistem perdagangan yang mampu memberikan harga yang adil di tingkat pekebun.
Amran mengapresiasi pendampingan yang dilakukan jajaran Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian di Aceh, mulai dari penyediaan bibit hingga pengawalan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL).
“Pembibitannya sangat bagus, kami sangat puas. Juga PPL, saya terima kasih. Ini bekerja dengan baik,” ujar Amran.
Pemerintah berkomitmen melanjutkan dukungan terhadap pengembangan perkebunan kopi di berbagai wilayah Indonesia melalui alokasi anggaran khusus dalam beberapa tahun mendatang. Amran juga memastikan dukungan pengembangan kopi akan ditingkatkan pada 2027.
“Insya Allah tahun depan kita tingkatkan lagi. Yang penting tanaman ini dirawat dengan baik sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan petani,” ujarnya.
Pengembangan 17 ribu hektare lahan dengan 17 juta bibit kopi menjadi langkah strategis untuk memperkuat fondasi industri kopi Indonesia dari sektor hulu. Keberhasilan program tersebut akan sangat ditentukan oleh konsistensi perawatan tanaman, peningkatan kapasitas petani, kualitas pascapanen, serta kemampuan pemerintah dan pelaku usaha membangun akses pasar yang berkelanjutan.
Kopi Gayo bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi juga bagian dari identitas ekonomi dan budaya Aceh yang telah dikenal di berbagai penjuru dunia. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, peningkatan produktivitas, serta perlindungan terhadap kepentingan petani, potensi kopi Gayo dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam industri kopi global.
Di balik setiap cangkir kopi Gayo yang dinikmati konsumen dunia, terdapat kerja keras para petani, penyuluh, dan seluruh rantai pasok yang menjaga kualitasnya. Jika 17 juta bibit tersebut berhasil tumbuh dan dikelola secara berkelanjutan, target peningkatan pendapatan petani dan ekspor kopi nasional bukan sekadar ambisi, melainkan peluang besar yang dapat diwujudkan melalui kerja bersama dan kebijakan yang konsisten.
