Agustus 26, 2026

Kementan-Unhas Perkuat ALOPE UNHAS-1, Ayam Lokal Unggul Ditargetkan Jadi Pengungkit Kemandirian Bibit Unggas

0
IMG-20260722-WA0067

MAKASSAR — Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama Universitas Hasanuddin memperkuat pengembangan Ayam Lokal Pedaging Unggul (ALOPE) UNHAS-1 sebagai bagian dari strategi mendorong kemandirian bibit unggas lokal dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Pengembangan ALOPE UNHAS-1 dinilai memiliki nilai strategis karena memanfaatkan potensi genetik ayam lokal yang adaptif terhadap kondisi lingkungan Indonesia. Selain memperkuat ketersediaan sumber protein hewani, pengembangan ayam lokal unggul juga diharapkan membuka peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan peternak.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda, melalui Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Hary Suhada, mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat ekosistem pengembangan unggas lokal secara terintegrasi dan berkelanjutan.

Menurutnya, pengembangan ayam lokal tidak cukup hanya mengandalkan aspek pembibitan. Diperlukan dukungan menyeluruh yang mencakup pakan, kesehatan hewan, teknologi budidaya, pengolahan, hingga akses pasar.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun rantai usaha unggas lokal yang lebih kuat sekaligus meningkatkan daya saing peternak.

ALOPE UNHAS-1 Jadi Hasil Riset Perguruan Tinggi

Rektor Universitas Hasanuddin Jamaluddin Jompa menegaskan bahwa ALOPE UNHAS-1 merupakan salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung kemandirian pangan berbasis sumber daya genetik lokal.

Ia mengapresiasi dukungan Kementerian Pertanian terhadap pengembangan ayam lokal unggul tersebut dan mendorong agar inovasi hasil riset perguruan tinggi dapat dikembangkan secara lebih luas melalui kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, koperasi, serta peternak.

“Alope UNHAS-1 merupakan hasil inovasi dan riset anak bangsa yang kami harapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Universitas Hasanuddin berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi ini bersama Kementerian Pertanian, dunia usaha, dan para peternak sehingga ayam lokal unggul dapat menjadi kekuatan baru dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak,” ujar Jamaluddin.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Makassar, Jumat (17/7/2026).

FGD yang dimoderatori Dekan Fakultas Peternakan Unhas Syahdar Baba tersebut mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, koperasi, dan peternak.

Forum tersebut menjadi ruang untuk menyusun strategi pengembangan ALOPE UNHAS-1 secara terintegrasi, mulai dari pembibitan hingga hilirisasi dan pemasaran.

Potensi Ayam Lokal Masih Terbuka Lebar

Dalam diskusi tersebut, Hary Suhada menjelaskan bahwa ayam lokal memiliki peran penting dalam sistem pangan nasional.

Selain menjadi sumber diversifikasi protein hewani, ayam lokal juga memiliki nilai strategis dalam menjaga dan memanfaatkan sumber daya genetik ternak Indonesia.

Berdasarkan data 2025 yang disampaikan dalam forum, populasi ayam lokal mencapai sekitar 171,09 juta ekor dengan produksi daging sebesar 211,24 ribu ton atau sekitar 4,69 persen dari total produksi daging ayam nasional.

Data tersebut menunjukkan bahwa kontribusi ayam lokal masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.

Penguatan produktivitas, pembibitan, teknologi budidaya, dan akses pasar menjadi faktor penting untuk mendorong ayam lokal agar mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap kebutuhan protein hewani masyarakat.

Di sisi lain, pengembangan ayam lokal juga dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi usaha peternakan, khususnya bagi peternak skala kecil dan menengah.

Mampu Capai Bobot Sekitar 1 Kilogram dalam 60 Hari

ALOPE UNHAS-1 telah ditetapkan sebagai galur ayam lokal pedaging unggul melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 838/Kpts/HK.150/M/09/2025.

Salah satu keunggulan yang dikembangkan adalah kemampuan pertumbuhan yang lebih cepat. Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam forum, ALOPE UNHAS-1 dapat mencapai bobot sekitar 1 kilogram pada umur 60 hari.

Karakteristik tersebut menjadi salah satu modal penting dalam meningkatkan daya saing ayam lokal, terutama dari sisi produktivitas dan efisiensi usaha peternakan.

Pengembangan selanjutnya tetap diarahkan untuk meningkatkan performa pertumbuhan dengan memperhatikan aspek kesehatan hewan, kualitas karkas, serta efisiensi produksi.

Dengan demikian, ayam lokal unggul diharapkan dapat memiliki posisi yang lebih kuat dalam pasar domestik dan menjadi alternatif yang semakin kompetitif bagi peternak.

Sulawesi Selatan Disiapkan sebagai Model Pengembangan

Kementerian Pertanian mendorong pengembangan ALOPE UNHAS-1 melalui penguatan ekosistem usaha dari hulu hingga hilir.

Rantai tersebut mencakup penyediaan bibit, pakan, layanan kesehatan hewan, budidaya, pengolahan hasil, hingga pemasaran.

Sulawesi Selatan dinilai memiliki potensi untuk menjadi salah satu kawasan percontohan pengembangan ayam lokal unggul sebelum model tersebut diperluas ke daerah lain.

Pengembangan berbasis kawasan diharapkan dapat mempermudah integrasi antara pembibitan, produksi, pengolahan, dan pemasaran.

Model tersebut juga dapat memperkuat kemitraan antara peternak dengan perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, serta lembaga pembiayaan.

Dengan pendekatan ekosistem, pengembangan ALOPE UNHAS-1 diharapkan tidak berhenti pada aspek riset dan pembibitan, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Perkuat Kemandirian Bibit Unggas Lokal

Pengembangan ALOPE UNHAS-1 menjadi bagian dari agenda yang lebih luas untuk memperkuat sistem pembibitan unggas lokal di Indonesia.

Kemandirian bibit tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan jumlah bibit, tetapi juga kualitas genetik, standar mutu, kesehatan hewan, efisiensi produksi, dan keberlanjutan usaha pembibitan.

Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor agar pengembangan ayam lokal dapat dilakukan secara konsisten dan terukur.

Melalui penguatan sistem pembibitan, penerapan standar mutu, pengembangan kemitraan, serta hilirisasi produk, ALOPE UNHAS-1 diharapkan mampu menjadi salah satu pengungkit peningkatan produksi ayam lokal nasional.

Kolaborasi Jadi Kunci Hilirisasi

FGD tersebut juga diharapkan menghasilkan sejumlah langkah konkret untuk mempercepat pengembangan ALOPE UNHAS-1.

Agenda yang dibahas mencakup target produksi bibit, tata kelola pembibitan, penerapan teknologi budidaya, penguatan kemitraan, hilirisasi, hingga strategi pemasaran.

Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, koperasi, dan peternak menjadi faktor penting untuk memastikan inovasi tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.

Bagi Universitas Hasanuddin, pengembangan ALOPE UNHAS-1 menjadi bukti bahwa riset perguruan tinggi dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Sementara bagi pemerintah, pengembangan ayam lokal unggul diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di sektor peternakan.

Jika ekosistem pembibitan dan usaha dapat dibangun secara konsisten, ALOPE UNHAS-1 berpeluang menjadi salah satu komoditas unggas lokal yang berkontribusi terhadap peningkatan produksi protein hewani nasional.

Lebih dari sekadar hasil inovasi akademik, pengembangan ALOPE UNHAS-1 diharapkan mampu menjadi model kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kebijakan pemerintah, dunia usaha, dan kekuatan peternak di tingkat masyarakat.

Dengan penguatan dari hulu hingga hilir, ayam lokal unggul diharapkan semakin mampu berperan dalam memperkuat kemandirian bibit unggas, mendukung ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *