Israel Lancarkan Serangan Drone di Lebanon, Dua Orang Tewas di Nabatieh di Tengah Gencatan Senjata Rapuh
BEIRUT – Ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon kembali meningkat setelah serangan pesawat nirawak (drone) Israel di wilayah Lebanon selatan pada Rabu (24/6/2026) dilaporkan menewaskan dua orang di dekat Kota Nabatieh.
Menurut laporan media resmi Lebanon, serangan terjadi di kawasan Tallat al-Dabsha, dekat Kfar Roummane, ketika sebuah kendaraan menjadi sasaran serangan udara hingga terbakar. Otoritas Lebanon melaporkan dua korban jiwa dalam insiden tersebut.
Dalam insiden terpisah di wilayah Barashit, Lebanon selatan, sebuah serangan drone lainnya dilaporkan menewaskan seorang anak yang berada di dalam sebuah minibus.
Militer Israel menyatakan bahwa operasi tersebut menargetkan dua anggota Hizbullah yang disebut sedang beraktivitas di kawasan Ali al-Taher, dekat Nabatieh. Namun, pihak berwenang Lebanon melaporkan korban sebagai warga sipil. Perbedaan keterangan mengenai identitas korban tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Serangan ini terjadi ketika upaya diplomatik untuk memperkuat gencatan senjata antara Israel dan Lebanon masih berlangsung, termasuk pembahasan yang difasilitasi melalui jalur diplomatik di Washington.
Netanyahu: Tantangan Keamanan Belum Berakhir
Di tengah meningkatnya ketegangan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa konfrontasi dengan Iran dan kelompok-kelompok yang didukung Teheran belum berakhir.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan tetap mempertahankan kesiapan militernya dan mengambil langkah-langkah yang dinilai perlu demi menjaga keamanan nasional.
Pemerintah Israel juga menyampaikan bahwa pasukannya akan tetap berada di sejumlah wilayah strategis, termasuk di Lebanon selatan, Gaza, dan Suriah, selama dinilai masih diperlukan untuk kepentingan keamanan.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sebelumnya juga menyampaikan bahwa Israel akan mempertahankan posisi militernya di Lebanon selatan meskipun terdapat dorongan internasional agar penarikan pasukan dilakukan sebagai bagian dari implementasi gencatan senjata.
Gencatan Senjata Masih Rapuh
Serangan terbaru tersebut menambah daftar insiden yang terjadi setelah diberlakukannya gencatan senjata yang dimaksudkan untuk meredakan eskalasi konflik di kawasan.
Pemerintah Lebanon terus menyerukan penghormatan terhadap kesepakatan gencatan senjata serta meminta penarikan pasukan Israel dari wilayah yang masih diduduki agar stabilitas kawasan dapat segera dipulihkan.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan pemerintahnya terus berupaya memperkuat implementasi gencatan senjata, mempercepat penempatan pasukan nasional di wilayah selatan, memfasilitasi kepulangan warga yang mengungsi, serta memulai proses rekonstruksi daerah yang terdampak konflik.
Namun, situasi keamanan di sepanjang perbatasan masih dinilai sangat rentan, sehingga proses pemulihan berjalan dengan berbagai tantangan.
Kekhawatiran Terhadap Stabilitas Kawasan
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa kondisi keamanan di Lebanon selatan masih jauh dari stabil meskipun berbagai upaya diplomatik terus dilakukan.
Sejumlah pengamat menilai setiap insiden bersenjata berpotensi memperbesar risiko eskalasi konflik regional apabila tidak diiringi dengan penguatan mekanisme diplomasi dan penghormatan terhadap kesepakatan yang telah dicapai.
Komunitas internasional terus menyerukan semua pihak agar menahan diri, melindungi warga sipil, serta mengedepankan penyelesaian melalui jalur diplomatik guna mencegah memburuknya situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
