Juli 14, 2026

FAO dan WFP Peringatkan 13 Titik Kelaparan Dunia, 266 Juta Orang Hadapi Krisis Pangan Akut

0
IMG-20260625-WA0092

JENEWA – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bersama Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa sebanyak 266 juta orang diperkirakan menghadapi kerawanan pangan akut di 13 titik krisis kelaparan dunia sepanjang periode Juni hingga November 2026.

Peringatan tersebut disampaikan melalui laporan Hunger Hotspots yang dirilis FAO dan WFP pada 17 Juni 2026 melalui Global Network Against Food Crises (GNAFC). Laporan yang diterbitkan dua kali setiap tahun itu mengidentifikasi wilayah-wilayah yang berisiko mengalami memburuknya kondisi pangan akibat konflik, krisis ekonomi, perubahan iklim, serta menurunnya bantuan kemanusiaan.

Sudan, Sudan Selatan, Yaman, dan Palestina menjadi wilayah dengan tingkat risiko tertinggi berdasarkan tingkat keparahan dan luasnya dampak krisis pangan. Sementara itu, Nigeria dan Somalia masuk ke dalam kelompok perhatian tertinggi setelah kondisi kemanusiaan di kedua negara terus memburuk.

FAO dan WFP menyebut konflik bersenjata masih menjadi penyebab utama meningkatnya kerawanan pangan akut, yang memengaruhi 12 dari 13 wilayah krisis. Situasi tersebut diperburuk oleh tekanan ekonomi, keterbatasan akses kemanusiaan, serta ancaman cuaca ekstrem yang dipengaruhi fenomena El Niño.

Di Sudan, sekitar 19,5 juta jiwa atau sekitar 41 persen populasi menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi. Risiko kelaparan diperkirakan terus berlangsung di sejumlah wilayah Darfur dan Kordofan hingga awal 2027.

Sudan Selatan juga menghadapi kondisi yang mengkhawatirkan. Sekitar 7,8 juta orang atau 55 persen populasi diperkirakan berada dalam kategori krisis pangan atau lebih buruk, dengan sejumlah wilayah di Jonglei dan Upper Nile menghadapi risiko kelaparan.

Di Yaman, lebih dari separuh penduduk diperkirakan mengalami kerawanan pangan akut. Sementara di Palestina, khususnya Jalur Gaza, sekitar 1,6 juta orang membutuhkan bantuan pangan mendesak meskipun situasi dilaporkan sedikit membaik setelah gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025.

Nigeria dan Somalia menjadi perhatian baru dalam laporan tahun ini. Di Nigeria, sekitar 34,8 juta orang diperkirakan menghadapi kerawanan pangan akut, termasuk ribuan warga yang berada pada tingkat bencana di Negara Bagian Borno. Di Somalia, sekitar 6 juta orang terdampak akibat kombinasi konflik, kekeringan, dan gagal panen.

Selain itu, Afghanistan, Republik Demokratik Kongo, Haiti, Lebanon, Madagaskar, Myanmar, dan Mali juga tercantum dalam daftar wilayah yang membutuhkan perhatian serius karena tingginya risiko memburuknya kondisi pangan dan kemanusiaan.

FAO dan WFP turut menyoroti penurunan drastis pendanaan bantuan kemanusiaan. Pendanaan untuk bantuan pangan, pertanian darurat, dan program gizi turun sekitar 59 persen sepanjang periode 2022 hingga 2025, kembali ke tingkat yang terakhir terlihat hampir satu dekade lalu.

Menurut kedua organisasi tersebut, penurunan pendanaan terjadi ketika jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan justru terus meningkat, sehingga memperbesar risiko memburuknya krisis pangan global.

Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa konflik yang terus berlangsung di sejumlah kawasan, dampak perubahan iklim, gangguan ekonomi global, serta wabah penyakit berpotensi semakin memperburuk kondisi jutaan penduduk yang telah berada dalam situasi rentan.

FAO dan WFP menyerukan kepada komunitas internasional agar segera meningkatkan dukungan terhadap bantuan kemanusiaan, investasi pada sektor pertanian darurat, serta program penguatan ketahanan pangan sebagai langkah strategis untuk mencegah krisis yang lebih besar.

Menurut kedua lembaga PBB tersebut, tindakan cepat dan terkoordinasi akan menjadi faktor penentu dalam melindungi mata pencaharian masyarakat, mempertahankan produksi pangan lokal, serta mengurangi kebutuhan bantuan kemanusiaan pada masa mendatang.

Tanpa respons yang memadai, jutaan orang di berbagai belahan dunia berisiko menghadapi tingkat kelaparan yang semakin parah dalam beberapa bulan ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *