Mei 3, 2026

Impor LPG Sedot Rp137 Triliun, Menteri Bahlil Lahadalia Ungkap Akar Masalah dan Solusi Energi Nasional

0
1777748614125-1



VIRAL POST — Ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG kembali menjadi sorotan serius. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, devisa negara yang keluar untuk impor LPG mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp137 triliun per tahun.
Dari jumlah tersebut, beban terbesar justru datang dari subsidi pemerintah yang mencapai Rp80 hingga Rp87 triliun setiap tahunnya ,angka yang mencerminkan tekanan besar terhadap anggaran negara.
“Kebutuhan kita LPG 8,6 juta ton per tahun. Produksi kita hanya 1,6 sampai 1,7 juta ton. Jadi, kita impor sekitar 7 juta ton per tahun,” ujar Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB untuk Bangsa, Sabtu (2/5/2026).

Paradoks Energi: Kaya Gas, Tapi Impor LPG

Ironisnya, di tengah ketergantungan impor LPG, Indonesia justru dikenal sebagai negara dengan cadangan gas yang melimpah. Bahkan, sekitar 30 persen dari total produksi gas nasional masih diekspor ke luar negeri.
Namun, Bahlil menjelaskan bahwa persoalan utamanya terletak pada komposisi gas yang dihasilkan Indonesia.
Gas domestik didominasi oleh C1 (metana) dan C2 (etana), sementara LPG membutuhkan kandungan C3 (propana) dan C4 (butana) yang relatif kecil tersedia di dalam negeri.
“Gas kita melimpah, tapi bukan jenis yang bisa langsung jadi LPG. Di sinilah akar masalahnya,” tegasnya.

DME dan CNG, Jalan Menuju Kemandirian Energi

Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah mulai mendorong pengembangan energi alternatif. Salah satu yang menjadi fokus adalah Dimethyl Ether (DME), yang dapat diproduksi dari batu bara maupun gas alam.
Proyek DME bahkan telah dimulai dengan peletakan batu pertama di Muara Enim, sebagai bagian dari strategi besar menuju substitusi LPG.
Selain itu, pemerintah juga melirik Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif yang lebih murah. Saat ini, CNG telah digunakan di sejumlah restoran dan dapur program makan bergizi gratis.
Menariknya, biaya penggunaan CNG disebut bisa lebih hemat hingga 30–40 persen dibandingkan LPG. Namun, tantangan terbesar masih pada pengembangan distribusi dalam skala rumah tangga, khususnya dalam bentuk tabung kecil setara LPG 3 kilogram.

Taruhan Besar Kemandirian Energi

Bahlil menegaskan bahwa upaya ini bukan sekadar proyek energi, melainkan bagian dari perjuangan besar untuk kemandirian nasional.
“Tidak ada urusan untuk efisiensi, kebaikan, dan pelayanan rakyat yang tidak kita perjuangkan. Apapun kita pertaruhkan agar kita bisa mandiri,” pungkasnya.
Langkah menuju substitusi LPG memang tidak mudah. Namun, di tengah beban impor ratusan triliun rupiah, transformasi energi bukan lagi pilihan ,melainkan keharusan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *