Menolak Lupa Duka Pandemi, Muktamar NU Diingatkan Prioritaskan Keselamatan Ulama
VIRAL POST — Penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-34 tidak hanya menjadi momentum pergantian kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama, tetapi juga mengandung tanggung jawab moral besar setelah bangsa ini melewati masa sulit pandemi.
Muktamar NU selama ini dikenal sebagai forum tertinggi organisasi yang tidak sekadar membahas suksesi jabatan Rais Aam maupun Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Lebih dari itu, muktamar menjadi ruang ijtihad kolektif para ulama dalam merumuskan arah keagamaan, sosial, dan kebangsaan.
Namun kali ini, forum tersebut juga dibayangi memori kelam pandemi COVID-19 yang telah merenggut banyak tokoh agama di Indonesia.
Kehilangan Ratusan Ulama
Pandemi meninggalkan duka mendalam bagi kalangan Nahdliyin. Data yang beredar di lingkungan NU mencatat sedikitnya 805 ulama wafat selama dua tahun masa pandemi.
Bagi warga NU, kehilangan seorang ulama bukan sekadar kehilangan tokoh agama, melainkan hilangnya sumber ilmu, keteladanan, dan penjaga tradisi keilmuan pesantren.
Seruan “Jaga Kiai, Jaga Bu Nyai” yang sempat menggema selama pandemi pun kembali diingatkan sebagai pengingat pentingnya perlindungan terhadap para ulama, terlebih dalam kegiatan besar yang menghadirkan ribuan peserta seperti Muktamar.
Pelajaran dari Gelombang Kedua
Pengalaman pahit pada pertengahan 2021 menjadi pengingat serius. Saat itu, Indonesia sempat menjadi salah satu episentrum pandemi di Asia dengan lonjakan kasus yang sangat tinggi.
Puncaknya terjadi pada Juli 2021 ketika kasus harian mencapai lebih dari 56 ribu kasus dalam satu hari, sebuah angka yang membuat sistem kesehatan nasional berada di ambang krisis.
Sejumlah tokoh NU pun kala itu aktif mengingatkan pentingnya kesadaran kolektif terhadap bahaya virus. Salah satunya adalah ulama kharismatik Mustofa Bisri yang bahkan mengajak kalangan dokter NU untuk turut berdakwah kepada masyarakat yang masih meragukan keberadaan virus.
Tantangan Kerumunan “Romli”
Di setiap Muktamar NU, biasanya hadir fenomena yang dikenal sebagai “Romli” (Rombongan Liar), yakni warga Nahdliyin yang datang secara sukarela tanpa undangan resmi demi mengikuti kegiatan atau sekadar ngalap berkah dari para kiai.
Fenomena ini mencerminkan kecintaan warga terhadap ulama dan tradisi NU. Namun dalam konteks kesehatan publik, kerumunan besar tanpa pengaturan ketat berpotensi menimbulkan risiko.
Tradisi sowan atau salim kepada kiai, yang menjadi bagian dari budaya takzim dalam tradisi pesantren, juga diingatkan agar tetap memperhatikan aspek kesehatan, mengingat banyak ulama yang telah berusia lanjut dan memiliki risiko komorbid.
Keselamatan Ulama di Atas Segalanya
Para pengamat organisasi keagamaan menilai, penyelenggaraan Muktamar NU perlu mempertimbangkan secara matang aspek keselamatan peserta, khususnya para ulama sepuh yang menjadi tokoh sentral dalam organisasi.
NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh dalam pengelolaan kegiatan besar yang tetap memperhatikan aspek kesehatan dan kemanusiaan.
Muktamar diharapkan tidak hanya menjadi forum politik organisasi, tetapi juga momentum refleksi bahwa keselamatan ulama dan umat harus menjadi prioritas utama.
Dengan pengalaman panjang menghadapi pandemi, banyak pihak berharap NU mampu menunjukkan bahwa tradisi keagamaan, ilmu pengetahuan, dan kepedulian kemanusiaan dapat berjalan seiring dalam menjaga keselamatan bersama.
Sumber: Olahan redaksi dari berbagai catatan dan publikasi NU Online.