Putra Mahkota Terakhir Iran Reza Pahlavi Soroti Ketangguhan Rezim Teheran di Tengah Tekanan AS
VIRAL POST — Putra mahkota terakhir Iran yang kini hidup dalam pengasingan, Reza Pahlavi, secara terbuka menyampaikan kekesalannya terhadap ketangguhan pemerintahan di Teheran dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya, Pahlavi mengaku frustrasi melihat struktur kekuasaan di negaranya masih bertahan kuat meskipun telah menjadi target berbagai tekanan dan serangan selama konflik berlangsung. Ia menilai intensitas tekanan militer yang dilakukan Amerika Serikat seharusnya mampu memicu ketidakstabilan internal yang signifikan di Iran.
Namun kenyataan di lapangan, menurutnya, justru menunjukkan hasil yang berbeda. Pemerintahan di Iran dinilai tetap solid dan tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan politik.
Pahlavi menegaskan bahwa strategi militer dari luar negeri tidak cukup untuk menggulingkan kekuasaan tanpa dukungan kuat dari gerakan oposisi di dalam negeri. Ia menilai rezim saat ini mampu memanfaatkan narasi “ancaman asing” untuk memperkuat legitimasi dan mengonsolidasikan kekuasaan di dalam negeri.
“Tekanan dari luar tidak akan efektif tanpa adanya dukungan nyata terhadap gerakan oposisi domestik,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip dari laporan media internasional.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran kalangan oposisi Iran di pengasingan terhadap stabilitas pemerintahan di Teheran yang dinilai semakin sulit digoyahkan. Situasi ini, menurut mereka, dapat memperkecil peluang perubahan kepemimpinan di negara tersebut, terutama setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata dalam konflik yang baru saja berlangsung.
Sejumlah analis politik internasional menilai komentar Pahlavi juga merupakan kritik terhadap pendekatan kebijakan luar negeri Washington yang dinilai belum sepenuhnya menyentuh aspirasi masyarakat Iran secara langsung.
Para pengamat berpendapat bahwa pemerintah Iran telah membangun sistem pertahanan yang kuat, tidak hanya secara militer tetapi juga secara ideologis dan politik. Kondisi tersebut membuat tekanan eksternal menjadi kurang efektif dalam mendorong perubahan kekuasaan.
Di tengah meredanya konflik bersenjata, Pahlavi pun menyerukan agar komunitas internasional mengevaluasi kembali strategi mereka terhadap Iran. Ia menilai bahwa tanpa tekanan yang benar-benar menyasar akar kekuasaan di Teheran, upaya dari luar hanya akan berujung pada kebuntuan.
Sementara itu, pemerintahan Iran hingga kini tetap menunjukkan stabilitas politik dan terus memperkuat posisinya di kawasan Timur Tengah.