Kekeringan dan Karhutla Dominasi Bencana Akhir Pekan, BNPB Catat Anomali Banjir Bandang dan Konflik Sosial
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum laporan kejadian bencana yang terjadi pada periode Sabtu hingga Minggu, 18–19 Juli 2026. Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah Indonesia menghadapi dampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah dominasi bencana hidrometeorologi kering tersebut, BNPB juga mencatat dua peristiwa lain yang menjadi perhatian, yakni banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, serta konflik sosial di Adonara Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Peristiwa konflik sosial terjadi di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT, pada Sabtu (18/7) sekitar pukul 06.15 WITA. Konflik antar kelompok warga melibatkan masyarakat Dusun Bele, Desa Waiburak, dengan masyarakat Desa Narasaosina. Peristiwa tersebut mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan tujuh lainnya mengalami luka-luka.
Selain korban jiwa, konflik juga menyebabkan kerugian material berupa 20 unit rumah yang terbakar, satu unit bangunan usaha, dan satu unit sepeda motor. Aparat gabungan TNI-Polri, termasuk 34 personel Brimob, dikerahkan untuk mengamankan lokasi serta melakukan pendekatan persuasif guna menghentikan konflik dan mencegah terjadinya bentrokan susulan. Hingga Minggu (19/7), situasi dilaporkan mulai kondusif, meski aparat keamanan masih melakukan pengamanan untuk mengantisipasi potensi gangguan lanjutan.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya Kepala BNPB juga melakukan kunjungan ke Kecamatan Adonara Barat pada 16 Juli untuk meresmikan hunian tetap dan sumur bor pascakonflik. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pemulihan dan penguatan ketahanan masyarakat masih menjadi pekerjaan penting di wilayah tersebut.
Sementara itu, banjir bandang melanda Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada Sabtu (18/7) sekitar pukul 19.45 WIB. Bencana tersebut dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan aliran Sungai Batang Tumayo mengalami pendangkalan dan meluap hingga berdampak pada permukiman warga.
BPBD Kabupaten Agam mencatat sebanyak 90 Kepala Keluarga atau sekitar 450 jiwa terdampak. Sebagian warga sempat mengungsi untuk sementara waktu. Namun, menjelang dini hari, banjir berangsur surut dan sebagian besar warga yang mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.
Di tengah dua peristiwa tersebut, ancaman kekeringan menjadi salah satu persoalan yang paling banyak dilaporkan di sejumlah wilayah Pulau Jawa. Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebanyak 870 Kepala Keluarga di Desa Sumber Jeruk dan Desa Sumberpinang mengalami kesulitan memperoleh air bersih. BPBD setempat telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 9.000 liter pada Sabtu (18/7).
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Pasuruan. Kekeringan berdampak pada warga di Desa Petung, Gerbo, dan Winongan dengan total 615 Kepala Keluarga terdampak. BPBD Kabupaten Pasuruan melakukan distribusi air bersih ke wilayah terdampak, termasuk Dusun Precet dan Dusun Tegal, Desa Petung.
Di Jawa Tengah, kekeringan juga berdampak pada masyarakat di sejumlah daerah. Kabupaten Klaten menjadi salah satu wilayah yang menghadapi persoalan serius. Sebanyak 10.688 warga di Kecamatan Kemalang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat menurunnya debit sumber air.
Sebagai bentuk penanganan, BPBD Kabupaten Klaten telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 285 tangki atau sekitar 1.425.000 liter sepanjang 15 Juni hingga 18 Juli 2026. Kekeringan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain, termasuk Kabupaten Kudus, Boyolali, Banyumas, dan Pemalang.
Sementara itu, dampak kekeringan di Jawa Barat semakin meluas. Di Kabupaten Bogor, kondisi kekeringan telah berdampak pada 33 desa yang tersebar di 17 kecamatan, dengan jumlah warga terdampak mencapai 43.451 jiwa.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan status darurat bencana kekeringan dan karhutla yang berlaku sejak 1 Juli hingga 30 September 2026. BPBD Kabupaten Bogor pun terus melakukan distribusi air bersih ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Kecamatan Kemang, Ciampea, Jasinga, Leuwisadeng, dan Tenjo.
Ancaman lain yang muncul selama periode tersebut adalah kebakaran hutan dan lahan. Di Kabupaten Aceh Barat, Aceh, kebakaran melanda sekitar empat hektare lahan yang tersebar di tiga kecamatan. Hingga Sabtu (18/7), BPBD bersama tim pemadam kebakaran berhasil mengendalikan sekitar 95 persen kebakaran di Gampong Gunong Kleng, sedangkan penanganan api di Gampong Lapang masih dilakukan.
Karhutla juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, dengan luas lahan terdampak sekitar lima hektare. Di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, kebakaran lahan melanda tiga wilayah kecamatan dengan total area terdampak diperkirakan mencapai 35,2 hektare.
Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa memasuki puncak musim kemarau, ancaman bencana di berbagai daerah semakin beragam. Kekeringan dan karhutla menjadi ancaman utama akibat kondisi cuaca kering, sementara hujan dengan intensitas tinggi di wilayah tertentu tetap berpotensi memicu bencana banjir.
BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi kering. Masyarakat diminta mengelola cadangan air secara bijak, tidak melakukan pembakaran lahan, serta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan titik api.
Selain itu, kewaspadaan terhadap potensi bencana lain, termasuk bencana geologi seperti gempa bumi, juga perlu terus dijaga. Kesiapsiagaan masyarakat, respons cepat pemerintah daerah, serta koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penting untuk menekan risiko dan meminimalkan dampak bencana.
Di tengah musim kemarau yang semakin menantang, pencegahan menjadi kunci utama. Setiap titik api yang berhasil dipadamkan sebelum meluas, setiap warga yang memperoleh pasokan air tepat waktu, dan setiap konflik yang berhasil diredam merupakan bagian dari upaya bersama menjaga keselamatan masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat harus terus diperkuat agar Indonesia semakin tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana.
