Gelombang Panas Ekstrem Paksa Reaktor Nuklir Golfech Berhenti Beroperasi, Produksi Listrik Prancis Terdampak
PARIS – Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis memaksa perusahaan listrik nasional Électricité de France (EDF) menghentikan operasional salah satu reaktor di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Golfech setelah suhu Sungai Garonne diperkirakan mencapai batas maksimum yang diizinkan untuk sistem pendinginan.
EDF mengumumkan reaktor kedua di PLTN Golfech dihentikan pada 22 Juni 2026 pukul 23.45 waktu setempat sebagai langkah pencegahan untuk memenuhi ketentuan perlindungan lingkungan yang mengatur suhu air yang dikembalikan ke sungai.
Sebelumnya, reaktor pertama di fasilitas yang sama telah lebih dahulu tidak beroperasi sejak 8 Mei 2026 karena menjalani pemeliharaan rutin. Dengan demikian, seluruh unit PLTN Golfech untuk sementara berhenti menghasilkan listrik.
Suhu Sungai Garonne Tembus 28 Derajat Celsius
PLTN Golfech yang berada di tepi Sungai Garonne memanfaatkan aliran sungai sebagai bagian dari sistem pendinginan reaktor.
Namun, gelombang panas yang melanda Prancis menyebabkan suhu air sungai diperkirakan mencapai 28 derajat Celsius, mendekati batas lingkungan yang ditetapkan pemerintah untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
EDF menegaskan keputusan penghentian operasi dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi perlindungan lingkungan dan untuk meminimalkan dampak terhadap kehidupan akuatik di Sungai Garonne.
Gelombang Panas Ganggu Produksi Energi Nuklir
Prancis tengah menghadapi salah satu gelombang panas paling ekstrem dalam sejarah modern dengan suhu di sejumlah wilayah dilaporkan mencapai 44 derajat Celsius.
Selain Golfech, EDF juga melakukan pengurangan produksi listrik di beberapa pembangkit nuklir lainnya, termasuk Saint-Alban 2, Bugey 3, dan Nogent 2.
Secara keseluruhan, langkah tersebut memengaruhi sekitar 4,1 gigawatt kapasitas produksi listrik atau sekitar 4,6 persen dari total kapasitas pembangkit nuklir nasional pada puncak gelombang panas.
Perubahan Iklim Jadi Tantangan Baru Energi Nuklir
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir juga menghadapi tantangan akibat perubahan iklim.
Meskipun menggunakan teknologi nuklir sebagai sumber energi, reaktor tetap membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar untuk proses pendinginan. Ketika suhu sungai meningkat terlalu tinggi, operasi pembangkit harus dikurangi atau dihentikan agar tidak memperburuk kondisi lingkungan.
EDF memperkirakan dampak gelombang panas terhadap produksi listrik nuklir tahun ini relatif kecil secara nasional. Namun, lembaga audit publik Prancis Cour des Comptes sebelumnya memperingatkan bahwa penghentian operasi reaktor akibat suhu ekstrem diperkirakan dapat meningkat tiga hingga empat kali lipat pada pertengahan abad ini apabila tren pemanasan global terus berlanjut.
Adaptasi Infrastruktur Energi Semakin Mendesak
Para pakar energi menilai kejadian di Golfech menjadi gambaran bagaimana perubahan iklim mulai memengaruhi infrastruktur energi modern.
Meningkatnya frekuensi gelombang panas, kekeringan, dan kenaikan suhu sungai diperkirakan akan menjadi tantangan utama bagi sektor ketenagalistrikan di berbagai negara yang masih mengandalkan pendinginan berbasis air.
Peristiwa ini memperkuat urgensi pengembangan teknologi pendinginan yang lebih efisien, diversifikasi sumber energi, serta strategi adaptasi terhadap perubahan iklim guna menjaga ketahanan pasokan listrik di masa depan.
