Juli 14, 2026

Gelombang Panas Ekstrem: 50 Kota Terpanas di Dunia Berada di India, Suhu Capai 48 Derajat Celsius

0
IMG-20260625-WA0087

NEW DELHI – India kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah gelombang panas ekstrem pada Juni 2026 menempatkan 50 kota terpanas di dunia berada di negara tersebut. Suhu di sejumlah wilayah dilaporkan mencapai 48 derajat Celsius, memicu tekanan besar terhadap sektor kesehatan, energi, dan kehidupan masyarakat.

Data pemantauan cuaca menunjukkan wilayah Delhi-NCR, Uttar Pradesh, Haryana, Rajasthan, hingga Odisha mengalami suhu siang hari berkisar antara 45 hingga 48 derajat Celsius.

Kota Sri Ganganagar di Negara Bagian Rajasthan mencatat suhu 48 derajat Celsius pada 12 Juni 2026. Beberapa hari sebelumnya, Banda di Uttar Pradesh bahkan mencapai 48,2 derajat Celsius, menjadi salah satu suhu tertinggi yang pernah tercatat di India dalam beberapa tahun terakhir.

Pada puncak gelombang panas tanggal 22 Mei 2026, seluruh 50 kota dengan suhu tertinggi di dunia tercatat berada di India. Bahkan, dalam daftar 100 kota terpanas dunia, sebanyak 97 kota berasal dari India, memperlihatkan skala fenomena cuaca ekstrem yang melanda negara tersebut.

Malam Hari Tetap Panas

Tidak hanya suhu siang yang memecahkan rekor, temperatur malam hari juga tetap berada pada tingkat yang sangat tinggi sehingga tubuh manusia tidak memiliki kesempatan untuk mendinginkan diri.

Di Kota Alwar, Rajasthan, suhu minimum malam mencapai 37 derajat Celsius, tertinggi dalam lebih dari lima dekade.

Sementara itu, New Delhi mencatat malam terpanas dalam 14 tahun terakhir dengan suhu minimum 32,4 derajat Celsius, sedangkan sejumlah wilayah di Haryana, Punjab, Chandigarh, dan Uttar Pradesh mengalami suhu malam antara 4 hingga 7 derajat Celsius di atas rata-rata normal.

Para dokter memperingatkan bahwa suhu malam yang tetap tinggi secara signifikan meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan panas, hingga serangan panas (heat stroke), terutama bagi kelompok lanjut usia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan.

Ancam Kesehatan dan Ketahanan Energi

Gelombang panas ekstrem juga memberikan tekanan besar terhadap sistem kesehatan masyarakat.

Sebuah penelitian dari University of California, Berkeley, memperkirakan satu hari suhu ekstrem dapat dikaitkan dengan sekitar 3.400 kematian berlebih secara nasional, sedangkan gelombang panas yang berlangsung lima hari berpotensi menyebabkan puluhan ribu kematian tambahan.

Di sektor energi, kebutuhan listrik melonjak tajam akibat penggunaan pendingin ruangan dan kipas angin.

Pada 21 Mei 2026, India mencatat permintaan listrik tertinggi sepanjang sejarah sebesar 270,82 gigawatt, melampaui proyeksi pemerintah.

Namun, keterbatasan akses terhadap pendingin udara membuat sebagian besar masyarakat tetap rentan terhadap dampak suhu ekstrem, terutama di wilayah berpendapatan rendah.

Perubahan Iklim Perburuk Gelombang Panas

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu kombinasi udara panas dari Gurun Thar, wilayah Iran dan Pakistan, serta meningkatnya kelembapan dari Teluk Benggala.

Kondisi tersebut menghasilkan wet-bulb temperature atau suhu basah yang sangat berbahaya, yaitu ketika tubuh manusia tidak lagi mampu mendinginkan diri secara efektif melalui penguapan keringat.

Para ilmuwan menilai perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi, durasi, dan intensitas gelombang panas di Asia Selatan.

Soroti Ketimpangan Krisis Iklim

Fenomena ini juga kembali memunculkan perhatian terhadap ketimpangan dampak perubahan iklim.

India memiliki emisi karbon per kapita yang relatif lebih rendah dibandingkan banyak negara maju, namun menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak pemanasan global.

Para pakar menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa negara-negara berkembang sering kali menanggung dampak paling berat dari perubahan iklim meskipun kontribusinya terhadap akumulasi emisi global relatif lebih kecil.

Gelombang panas yang melanda India pada 2026 menjadi salah satu peristiwa cuaca ekstrem terbesar tahun ini sekaligus memperkuat peringatan bahwa perubahan iklim telah menghadirkan tantangan nyata bagi kesehatan manusia, ketahanan energi, produktivitas ekonomi, dan keberlanjutan pembangunan di berbagai belahan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *