Juni 24, 2026

Rupiah Diprediksi Fluktuatif di Rp17.500-Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Cermati The Fed hingga Geopolitik Global

0
IMG-20260622-WA0021

Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp17.500 hingga Rp18.000 per dolar AS pada pekan perdagangan 22 Juni 2026. Pergerakan mata uang Garuda dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global dan domestik, mulai dari kebijakan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), perkembangan geopolitik Timur Tengah, hingga respons pasar terhadap hasil kajian Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Untuk perdagangan Senin (22/6/2026), rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, rupiah tercatat melemah tipis. Berdasarkan data pasar, rupiah dibuka turun sekitar 0,05 persen atau sembilan poin ke level Rp17.813 per dolar AS. Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (19/6/2026), rupiah ditutup menguat 0,24 persen ke posisi Rp17.797 per dolar AS.

Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian pasar adalah arah kebijakan The Fed. Bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen dalam pertemuan FOMC Juni 2026.

Namun, sikap sejumlah pejabat The Fed yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga kembali membuat pasar berhati-hati. Pernyataan bernada ketat atau hawkish dari pejabat bank sentral AS turut mendorong penguatan dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Indeks dolar AS (DXY) juga masih bertahan di level tinggi sekitar 100,83, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap aset dolar di tengah ketidakpastian global.

Selain faktor moneter AS, kondisi geopolitik Timur Tengah turut menjadi perhatian pelaku pasar. Perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran serta situasi di sekitar Selat Hormuz menjadi faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar global, terutama karena jalur tersebut merupakan salah satu jalur penting distribusi energi dunia.

Ketidakpastian geopolitik berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset aman atau safe haven seperti dolar AS. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.

Dari sisi pasar keuangan internasional, hasil review MSCI terhadap Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang dicermati investor. MSCI menyoroti aspek transparansi informasi pasar Indonesia, khususnya terkait data kepemilikan saham dan aktivitas perdagangan.

Meski demikian, Indonesia masih mempertahankan status sebagai negara berkembang atau Emerging Market dalam klasifikasi MSCI. Hal ini dinilai menjadi sentimen positif karena dapat menjaga kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) juga memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar melalui aturan pembelian valuta asing tunai. BI memperketat batas pembelian valas tunai tanpa dokumen pendukung sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar valuta asing.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat pengelolaan likuiditas valuta asing dan menjaga pergerakan rupiah agar tetap terkendali.

Dengan berbagai faktor yang masih saling memengaruhi, rupiah diperkirakan bergerak dinamis sepanjang pekan. Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan kebijakan The Fed, situasi geopolitik global, arus modal asing, serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Pergerakan rupiah ke depan diperkirakan masih berada dalam tekanan, namun intervensi dan kebijakan stabilisasi dari otoritas moneter diharapkan mampu menjaga volatilitas agar tidak bergerak terlalu tajam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *