Makna Demokrasi Menurut Rizkan Al Mubarrok: Kekuasaan Harus Kembali kepada Rakyat, Bukan Dikuasai Kepentingan
Viral Post — Demokrasi kerap dipahami sebatas pesta politik lima tahunan, perebutan kursi kekuasaan, atau pertarungan angka di bilik suara. Namun menurut tokoh jurnalis Jambi, Rizkan Al Mubarrok, demokrasi sejatinya memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar proses memilih pemimpin.
Menurut Rizkan, demokrasi bukan sekadar prosedur politik, melainkan sistem moral dan tanggung jawab kebangsaan yang menempatkan rakyat sebagai pemilik sah kekuasaan negara.
“Demokrasi bukan hanya tentang siapa yang menang pemilu. Demokrasi adalah bagaimana kekuasaan dijalankan untuk melayani rakyat, bukan memperkaya kelompok tertentu,” tegas Rizkan dalam pandangan yang disampaikannya mengenai arah demokrasi Indonesia.
Ia menilai, banyak negara termasuk Indonesia menghadapi tantangan besar ketika demokrasi mulai bergeser dari semangat kerakyatan menuju arena perebutan kepentingan elit. Dalam situasi seperti itu, demokrasi berpotensi kehilangan ruh utamanya.
Menurut Rizkan, demokrasi yang sehat memiliki beberapa fondasi penting: kebebasan menyampaikan pendapat, keadilan hukum, pengawasan terhadap kekuasaan, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan.
“Ketika rakyat hanya dibutuhkan saat pemilu, tetapi dilupakan setelah kekuasaan diraih, maka demokrasi sedang mengalami krisis makna,” ujarnya.
Sebagai insan pers, Rizkan juga menyoroti peran media dalam menjaga kualitas demokrasi. Menurutnya, pers tidak boleh hanya menjadi penonton atau alat kepentingan, tetapi harus berdiri sebagai pilar pengawas yang menjaga keseimbangan kekuasaan.
Ia menegaskan bahwa jurnalisme memiliki tugas moral untuk menghadirkan informasi yang jujur, kritis, dan berpihak kepada kepentingan publik.
“Pers yang kuat bukan pers yang memuji kekuasaan tanpa batas. Pers yang kuat adalah pers yang berani menjaga kebenaran, mengingatkan ketika negara keluar dari jalurnya, dan tetap menjaga marwah bangsa,” katanya.
Rizkan menilai demokrasi sejati bukan sekadar kemenangan politik, tetapi keberhasilan negara menciptakan kesejahteraan, keadilan, dan rasa percaya rakyat kepada sistem.
Dalam pandangannya, demokrasi tanpa etika hanya akan melahirkan politik transaksional, sedangkan demokrasi yang dibangun di atas kejujuran dan pengabdian akan melahirkan peradaban yang kuat.
Di tengah dinamika politik nasional yang terus berkembang, pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa demokrasi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menghadirkan kehidupan bangsa yang lebih adil dan bermartabat.
“Kekuasaan yang baik bukan yang ditakuti rakyat, tetapi yang lahir dari rakyat, bekerja untuk rakyat, dan kembali kepada rakyat.” — Rizkan Al Mubarrok
