VIRAL POST – Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat.
Selama seperempat abad, Cacang Hidayat menempuh perjalanan hampir sembilan kilometer setiap hari hanya untuk membuka pintu sekolah. Ia menyapu halaman, menjaga ruang kelas, hingga merawat perpustakaan kecil tempat anak-anak belajar membaca dan menumbuhkan mimpi.
Dari Desa Sumurbandung menuju SMP Negeri 2 Cibadak, langkahnya nyaris tak pernah berhenti. Hujan, panas, dan jalan terjal sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang pengabdiannya.
Bukan karena gaji besar.
Bukan karena fasilitas mewah.
Tetapi karena satu kata sederhana: pengabdian.
Sebagai tenaga honorer, Cacang hanya menerima gaji sekitar Rp500 ribu hingga Rp800 ribu per bulan. Jumlah yang bahkan sering kali tak cukup untuk menutupi kebutuhan dasar keluarganya.
Di rumah berdinding bilik bambu yang mulai lapuk, ia tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Atap rumahnya bocor. Tiang penyangga mulai rapuh. Bahkan beberapa waktu lalu, sebuah pohon tumbang menimpa rumah tersebut hingga nyaris roboh.
Setiap kali hujan turun, bukan hanya air yang menetes dari langit-langit rumahnya. Ada juga rasa cemas yang ikut jatuh bersama derasnya hujan.
Namun di sekolah, Cacang tetap hadir dengan senyum yang sama.
Ia dikenal disiplin, bertanggung jawab, dan dekat dengan para siswa. Banyak anak mengenalnya bukan sekadar penjaga sekolah, melainkan sosok yang selalu siap membantu ,mencarikan buku di perpustakaan, membuka gerbang sekolah sejak pagi buta, hingga memastikan lingkungan sekolah tetap aman.
Pada tahun 2025, setelah puluhan tahun setia mengabdi, secercah harapan akhirnya datang.
Cacang dinyatakan lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya status administratif.
Namun bagi Cacang, status itu adalah harapan baru. Harapan untuk memperbaiki rumahnya yang hampir roboh. Harapan agar anak-anaknya bisa tidur tanpa takut atap runtuh saat hujan turun.
“Harapan saya tidak muluk. Saya hanya ingin rumah yang layak untuk keluarga,” ujarnya pelan.
Kisah Cacang adalah potret dari ribuan tenaga honorer di pelosok negeri. Mereka menjaga nyala pendidikan tetap hidup, meski kehidupan mereka sendiri sering kali jauh dari kata sejahtera.
Kadang, pahlawan itu bukan yang berdiri di atas panggung.
Melainkan seseorang yang berjalan sembilan kilometer setiap hari, demi memastikan generasi berikutnya bisa bermimpi lebih tinggi.