Jambi — Ketua Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Provinsi Jambi sekaligus putra daerah Jambi, Rizkan Al Mubarrok yang akrab di sapa rizkan / barok , menyampaikan sanggahan tegas dan argumentatif terhadap pernyataan Dr. Noviardi Ferzi yang menyebut Indonesia bukan negara kaya sumber daya alam (SDA).
Menurut Rizkan, pernyataan tersebut bukan sekadar keliru, tetapi mencerminkan kegagalan membaca realitas politik-ekonomi Indonesia secara struktural, serta berpotensi menyesatkan kesadaran publik.
“Menyebut Indonesia tidak kaya SDA adalah kekeliruan analitis serius. Gelar akademik tidak otomatis menjamin kemampuan membaca struktur ekonomi dan relasi kekuasaan,” tegas Rizkan.
Kesalahan Mendasar: Mencampuradukkan Kekayaan SDA dengan Kesejahteraan Rakyat
Rizkan menjelaskan bahwa kesalahan utama dalam narasi “Indonesia tidak kaya SDA” terletak pada logical fallacy: mencampuradukkan antara ketersediaan sumber daya alam, tata kelola, dan distribusi kesejahteraan.
“Indonesia kaya SDA adalah fakta. Rakyat belum sejahtera juga fakta. Yang keliru adalah menyimpulkan bahwa karena rakyat belum sejahtera, maka Indonesia tidak kaya SDA,” ujarnya.
Dalam kajian ekonomi politik global, Indonesia justru dikenal sebagai resource-rich country with governance problems , negara yang sangat kaya sumber daya, tetapi lemah dalam pengelolaan dan keberpihakan politik.
Pernyataan Tokoh Nasional: Indonesia Kaya, Tapi Bocor dan Dikuasai Elite
Rizkan mengingatkan publik pada pernyataan mantan Ketua KPK Abraham Samad, yang berulang kali menegaskan bahwa Indonesia adalah negara dengan kekayaan alam luar biasa, namun dirampas oleh korupsi sistemik dan penguasaan elite.
Hal serupa juga disampaikan Mahfud MD, mantan Menko Polhukam, yang pernah mengungkap bahwa jika kekayaan negara dikelola tanpa korupsi, maka setiap warga Indonesia secara teoritis bisa memperoleh hingga Rp20 juta per orang, hanya dari satu sektor kekayaan alam.
“Itu bukan opini. Itu berbasis data negara, laporan keuangan, dan pengalaman langsung menangani kejahatan struktural,” tegas Rizkan.
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin: Kekayaan SDA Rp5.700 Triliun Dinikmati Sekitar 10 Orang
Rizkan kemudian menegaskan bahwa kritiknya diperkuat oleh pernyataan Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, yang secara terbuka mengungkap fakta mencengangkan tentang penguasaan kekayaan alam Indonesia.
Dalam pernyataan publiknya, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyebut bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia yang nilainya mencapai lebih dari Rp5.700 triliun selama ini dinikmati dan dikendalikan oleh hanya sekitar 10 orang.
Menurut Sjafrie, kondisi tersebut terjadi karena praktik ekonomi yang secara administratif tampak legal, tetapi secara substantif merugikan negara dan mengancam kedaulatan ekonomi nasional.
“Jika Indonesia tidak kaya SDA, dari mana angka kebocoran hingga ribuan triliun rupiah itu berasal? Fakta ini justru menegaskan bahwa masalahnya bukan pada SDA, melainkan pada penguasaan dan keberpihakan,” ujar Rizkan.
Fakta Global: Indonesia Pemain Utama SDA Dunia
Rizkan menegaskan bahwa secara data global, Indonesia merupakan salah satu negara pemilik SDA strategis terbesar di dunia, antara lain:
Cadangan nikel terbesar dunia, dengan Morowali sebagai pusat industri nikel global
Tambang emas dan tembaga Freeport di Papua, salah satu terbesar di dunia
Timah Bangka Belitung, komoditas strategis global
Batu bara, sebagai salah satu tulang punggung ekspor dunia
Minyak dan gas, termasuk maraknya praktik ilegal yang justru menandakan potensi besar namun lemahnya pengawasan
“Tidak ada negara miskin SDA yang mengalami eksploitasi masif, pertarungan kepentingan global, dan kejahatan terorganisir seperti Indonesia,” tegas Rizkan.
Presiden Prabowo: Indonesia Kaya, Tapi Dijarah
Rizkan juga mengaitkan hal ini dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto, yang sejak lama menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kaya yang terlalu lama dijarah oleh sistem dan jaringan kuat yang mengakar.
Dalam berbagai pidato kenegaraan, Prabowo menyebut kekayaan alam Indonesia sebagai aset strategis nasional yang kerap menjadi sasaran kepentingan global dan domestik.
“Narasi bahwa Indonesia tidak kaya SDA justru melemahkan keberanian politik untuk melakukan pembenahan. Presiden Prabowo sedang melawan sistem lama yang mengakar,” kata Rizkan.
AWNI: Narasi Keliru Berbahaya bagi Kesadaran Bangsa
Sebagai Ketua AWNI Provinsi Jambi, Rizkan menegaskan bahwa narasi publik dari akademisi dan pengamat tidak boleh dilepaskan dari kepentingan nasional dan kesadaran struktural.
“Yang gagal bukan sumber daya alam Indonesia. Yang gagal adalah sistem pengelolaannya dan keberpihakan politiknya,” tegasnya.
AWNI menyatakan komitmen untuk terus mengawal narasi publik yang berbasis fakta, berpihak pada rakyat, dan mendorong keadilan pengelolaan kekayaan alam nasional.
Catatan Redaksi :
Perbedaan pandangan adalah bagian dari demokrasi. Namun, meluruskan kekeliruan analitis yang berpotensi menyesatkan publik adalah kewajiban moral pers. Fakta menunjukkan Indonesia sangat kaya sumber daya alam. Tantangan sesungguhnya terletak pada tata kelola, integritas, dan keberanian politik untuk memutus dominasi segelintir elite atas kekayaan bangsa.