Analisis Kritis: Salah Kaprah Membandingkan Indonesia dengan Arab Saudi, Rusia, dan Jepang

Rizkan Al Mubarrok menilai, artikel yang menyebut Indonesia tidak kaya SDA dengan membandingkan cadangan minyak Indonesia dengan Arab Saudi, Iran, dan Rusia merupakan kesalahan metodologis serius dalam analisis ekonomi politik.
“Kekayaan sumber daya alam tidak bisa direduksi hanya pada satu komoditas bernama minyak. Itu pendekatan sempit dan menyesatkan,” tegas Rizkan.
Indonesia bukan negara mono-resource seperti Arab Saudi yang menggantungkan ekonomi pada minyak. Indonesia adalah negara multi-resource strategis, dengan kekayaan lintas sektor: nikel, emas, tembaga, timah, batu bara, gas, hutan tropis, laut, dan keanekaragaman hayati yang bernilai ekonomi global.

Perbandingan Jepang dan Jerman Justru Menguatkan Posisi Indonesia

Rizkan menilai, perbandingan dengan Jepang dan Jerman dalam artikel tersebut justru membuktikan kebalikan dari kesimpulan penulis.
Jepang dan Jerman memang hanya memiliki kontribusi pertambangan di bawah 2% PDB, karena mereka tidak punya SDA, sehingga sangat bergantung pada impor minyak, gas, dan mineral dari negara-negara produsen seperti Indonesia, Arab Saudi, Rusia, dan Australia.
“Jika SDA tidak penting, Jepang dan Jerman tidak akan menghabiskan triliunan dolar setiap tahun untuk mengamankan pasokan energi dan mineral,” ujar Rizkan.
Dengan kata lain, negara industri maju hidup dari SDA negara lain. Maka menyebut Indonesia tidak kaya SDA karena PDB-nya belum optimal adalah kesalahan logika sebab-akibat.

Australia Bukan Bukti Indonesia Miskin SDA, Tapi Bukti Salah Kelola

Australia dijadikan contoh sukses pengelolaan tambang dengan kontribusi besar terhadap PDB. Namun menurut Rizkan, hal itu justru menelanjangi masalah Indonesia.
“Australia kaya karena tata kelola dan keberpihakan negaranya kuat. Indonesia miskin bukan karena SDA-nya kecil, tapi karena bocor, dikorupsi, dan dikuasai segelintir elite,” tegasnya.
Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar dunia, tetapi nilai tambahnya lama dinikmati asing. Indonesia memiliki batu bara raksasa, tetapi rakyat di sekitar tambang tetap miskin. Itu masalah politik dan keberanian negara, bukan masalah ketiadaan SDA.

Rizkan menegaskan, narasi “Indonesia tidak kaya SDA” adalah narasi berbahaya, karena:
Mengaburkan fakta objektif kekayaan alam Indonesia
Mengalihkan kesalahan dari tata kelola ke alam
Melemahkan keberanian politik nasional
Menormalkan kegagalan negara sebagai “takdir”
“Indonesia kaya. Yang tidak kaya adalah keberanian sistemnya untuk melawan perampokan terstruktur,” tutup Rizkan.

Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *