Akar konflik Timur Tengah modern tidak lahir dari satu peristiwa tunggal, melainkan dari tumpang tindih kepentingan kolonial, identitas agama, dan geopolitik energi.
Setelah Perang Dunia II, wilayah ini menjadi salah satu titik paling rentan akibat penarikan kekuatan kolonial Eropa yang meninggalkan batas-batas negara tanpa konsensus sosial yang kuat.
Pembentukan negara Israel pada 1948 menjadi salah satu pemicu utama konflik berkepanjangan. Bagi Israel, eksistensi negara adalah jaminan keselamatan historis. Bagi Palestina dan sebagian dunia Arab, pembentukan tersebut dipandang sebagai perampasan wilayah.
Sejak saat itu, konflik bersenjata, intifada, dan perundingan yang gagal terus berulang tanpa penyelesaian final.
Di luar konflik Israel–Palestina, Timur Tengah juga menjadi pusat tarik-menarik kepentingan kekuatan besar.
Cadangan minyak dan gas menjadikan kawasan ini vital bagi ekonomi global. Amerika Serikat menjaga pengaruh melalui aliansi dengan Israel dan negara Teluk. Iran membangun kekuatan regional melalui jaringan proksi di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman.
Arab Saudi dan Iran terlibat rivalitas ideologis dan strategis yang merembet ke berbagai konflik lokal.
Perang Irak, konflik Suriah, dan krisis Yaman memperlihatkan bagaimana perang lokal berubah menjadi konflik regional dan internasional.
Negara-negara besar jarang berhadapan langsung, tetapi mendukung faksi-faksi berbeda untuk menjaga kepentingannya. Warga sipil menjadi korban utama dari konflik berlapis ini.
Timur Tengah tidak pernah benar-benar keluar dari siklus konflik karena setiap gencatan senjata hanya menghentikan pertempuran, bukan menyelesaikan akar permasalahan politik, wilayah, dan legitimasi kekuasaan.