VIRAL POST – Di sebuah pagi yang tenang di Jalan Dokter Sukarjo, Kota Tasikmalaya, saya duduk di teras sebuah kafe kecil bernama Kopilogi. Secangkir kopi hangat menemani, sementara lalu lintas di depan mata terus bergerak tanpa jeda.
Ada pengemudi ojek daring yang mengejar setoran, kurir makanan yang menjemput pesanan kopi, kendaraan pribadi yang berlalu lalang, angkutan kota yang mengepulkan asap, hingga mobil mewah yang melintas tanpa tergesa. Semua bergerak karena satu nadi yang sama: bahan bakar minyak (BBM).
Selama beberapa pekan terakhir, layar televisi dan linimasa media sosial kita dipenuhi kabar panas dari Timur Tengah. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran dan poros Amerika–Israel kembali memantik kekhawatiran global.
Bagi sebagian orang, konflik itu mungkin terasa jauh. Namun bagi ekonomi dunia, dampaknya sangat nyata. Perang berarti jalur pasokan energi terganggu. Ketika distribusi minyak mentah tersendat, harga global akan meroket. Dan ketika harga minyak dunia melonjak, biasanya harga di pompa bensin negara-negara pengimpor ikut terbakar.
Negara-negara di sekitar kita sudah mulai merasakan dampaknya. Di Singapura, harga BBM merangkak naik mengikuti fluktuasi pasar global. Filipina terus menyesuaikan harga hampir setiap pekan. Bahkan Malaysia, yang selama ini dikenal dengan kebijakan subsidi energinya, mulai melakukan penyesuaian cukup signifikan.
Namun di Indonesia, angka pada papan harga di SPBU justru relatif stabil. Tidak ada lonjakan yang drastis. Tidak ada gejolak yang membuat masyarakat panik.
Fakta ini menimbulkan satu pertanyaan sederhana: bagaimana Indonesia mampu menahan tekanan yang begitu kuat dari pasar global?
Sebagian jawabannya terletak pada kebijakan pemerintah yang memilih menahan beban tersebut melalui mekanisme fiskal. Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran pemerintahannya mengambil langkah yang mungkin tidak selalu populer di mata ekonom pasar bebas, tetapi dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas.
Dengan menahan harga BBM agar tetap stabil, pemerintah pada dasarnya berupaya menjaga daya beli masyarakat agar tidak terpukul oleh gelombang inflasi global.
Banyak pihak sebelumnya meragukan kemampuan pemerintahan ini. Susunan kabinet yang besar sering kali dikritik sebagai terlalu gemuk dan sarat kompromi politik. Ada pula narasi yang menyebut pemerintahan ini hanya akan sibuk mengurus kepentingan internal dan pembagian kekuasaan.
Namun kebijakan menjaga stabilitas harga energi di tengah tekanan global menunjukkan bahwa pemerintah sedang menjalankan strategi yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Di balik stabilitas harga BBM, terdapat kombinasi kebijakan fiskal, pengelolaan subsidi, serta langkah-langkah diplomasi energi yang tidak sederhana. Semua itu dilakukan agar tekanan ekonomi global tidak langsung berpindah ke dapur masyarakat.
Di sinilah paradoks demokrasi kita terlihat. Kita merasa paling berdaulat saat mengkritik pemerintah sekeras mungkin. Kita merasa paling bebas ketika mempertanyakan setiap keputusan presiden.
Namun pada saat yang sama, kebebasan untuk mengkritik itu sering kali hadir karena kondisi ekonomi kita masih relatif stabil.
Kita bisa duduk berjam-jam di kafe, memperdebatkan kebijakan pemerintah, menertawakan dinamika politik, atau meragukan kemampuan kabinet. Semua itu bisa terjadi karena harga bahan bakar yang kita gunakan untuk bepergian tidak tiba-tiba melonjak.
Apresiasi terhadap kebijakan ini tentu bukan berarti pemujaan tanpa kritik. Justru dalam sistem demokrasi, penghargaan dan kritik harus berjalan beriringan.
Mengakui satu kebijakan yang tepat tidak berarti menutup mata terhadap kekurangan lain. Sebaliknya, kritik yang tajam pun tidak harus menafikan fakta bahwa ada langkah-langkah pemerintah yang patut diapresiasi.
Di tengah dunia yang sedang diliputi ketidakpastian energi, Indonesia setidaknya masih mampu menjaga stabilitas di sektor yang sangat sensitif bagi masyarakat.
Barangkali, di balik kesan sederhana dan keputusan yang tampak tenang, terdapat strategi yang lebih kompleks dari yang kita bayangkan.
Terima kasih, Pak Presiden. Namun izinkan kami untuk tetap mengkritik, karena kritik yang jujur justru menjadi bagian penting dari upaya menjaga negara ini tetap berjalan di jalur yang benar.