Aneksasi Krimea oleh Rusia menunjukkan bahwa penggunaan kekuatan teritorial kembali menjadi opsi, setelah dua dekade dominasi tatanan pasca-Perang Dingin.
Langkah ini memicu sanksi ekonomi besar-besaran dan memperburuk hubungan Rusia dengan Barat.

Di saat yang sama, gelombang Arab Spring yang dimulai beberapa tahun sebelumnya berakhir dengan kegagalan di banyak negara.

Harapan demokratisasi berubah menjadi perang saudara, kekacauan politik, dan bangkitnya kelompok bersenjata non-negara. Stabilitas regional semakin rapuh.

Perang tidak lagi hanya terjadi di medan fisik. Serangan siber, kampanye disinformasi, dan manipulasi media sosial mulai digunakan secara sistematis.

Negara dan aktor non-negara memanfaatkan ruang digital untuk memengaruhi opini publik, melemahkan institusi, dan menciptakan ketidakpercayaan.

Polarisasi politik meningkat di berbagai negara. Ketidakpuasan terhadap globalisasi, krisis ekonomi, dan ketimpangan sosial memperlebar jarak antara pemerintah dan masyarakat.
Konflik internal ini memperkuat dampak konflik eksternal.

Sejak 2014, dunia memasuki fase di mana batas antara perang dan damai semakin kabur. Konflik tidak selalu ditandai dengan tank dan tentara, tetapi hadir dalam bentuk tekanan ekonomi, perang informasi, dan instabilitas politik yang berkelanjutan.

By Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *