Jambi — Dalam rangka memperingati Hari Primata Indonesia, Sugeng Heryanto, yang mewakili Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Provinsi Jambi, menyampaikan seruan moral dan kebangsaan agar perlindungan hutan dan satwa liar tidak lagi diposisikan sebagai isu pinggiran, melainkan sebagai agenda utama penyelamatan masa depan bangsa.
Menurut Sugeng Heryanto, peringatan Hari Primata Indonesia bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi alarm keras bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan bahwa kerusakan hutan telah mencapai titik yang mengkhawatirkan.
“Primata adalah indikator kesehatan hutan. Jika primata terus kehilangan habitatnya, maka itu pertanda ekosistem kita sedang menuju kehancuran. Dan ketika hutan runtuh, rakyatlah yang pertama kali menanggung akibatnya,” tegas Sugeng.
Primata Terancam, Rakyat Menanggung Dampak
Sugeng Heryanto menekankan bahwa perusakan hutan tidak hanya berdampak pada kepunahan satwa, tetapi juga berbanding lurus dengan meningkatnya bencana ekologis seperti banjir, longsor, dan krisis air bersih yang kini kerap menghantam wilayah-wilayah pemukiman rakyat.
Ia menilai, deforestasi yang terus terjadi adalah buah dari kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan ekonomi jangka pendek dibandingkan keselamatan lingkungan dan manusia.
“Ketika hutan dibuka tanpa kendali, primata kehilangan rumahnya, dan rakyat kehilangan perlindungan alaminya. Ini bukan kebetulan, ini akibat pilihan kebijakan,” ujarnya.
AWNI Jambi: Pers Harus Berdiri di Garda Terdepan
Sebagai organisasi wartawan, AWNI Provinsi Jambi, lanjut Sugeng, memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengawal isu lingkungan hidup melalui kerja jurnalistik yang independen, kritis, dan berpihak pada kepentingan publik.
Ia menegaskan bahwa pers tidak boleh diam ketika terjadi kejahatan ekologis yang merampas hak hidup generasi sekarang dan masa depan.
“Wartawan bukan hanya pencatat peristiwa, tetapi penjaga nurani publik. Ketika hutan dirusak dan suara rakyat dibungkam, pers wajib bersuara,” katanya.
Seruan Evaluasi Izin dan Penegakan Hukum
Dalam momentum Hari Primata Indonesia ini, AWNI Provinsi Jambi juga menyerukan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin-izin yang berdampak pada kawasan hutan, serta menindak tegas pelaku perusakan lingkungan tanpa pandang bulu.
Sugeng menegaskan, pembangunan sejati adalah pembangunan yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, bukan yang mengorbankan satu demi keuntungan segelintir pihak.
“Jika hari ini kita gagal melindungi hutan dan primata, maka esok kita sedang menyiapkan bencana untuk anak cucu kita,” pungkasnya.
Menjaga Hutan Adalah Menjaga Kehidupan
Peringatan Hari Primata Indonesia, menurut AWNI Provinsi Jambi, harus menjadi titik balik kesadaran kolektif bahwa hutan bukan komoditas semata, melainkan penyangga kehidupan dan simbol keadilan ekologis.
Karena ketika primata pun tak lagi memiliki tempat berlindung, maka sesungguhnya manusia sedang menggali lubang kehancurannya sendiri.