Di negeri yang kaya raya tetapi masih dipenuhi rakyat yang bekerja keras hanya untuk bertahan hidup, suara keadilan sering kalah oleh gemuruh kekuasaan dan angka-angka statistik. Banyak orang bangun pagi, menghitung sisa uang belanja, bekerja tanpa kepastian, dan pulang dengan rasa lelah yang tak pernah benar-benar dihitung negara. Dalam situasi seperti inilah, keberpihakan bukan sekadar pilihan moral, melainkan sikap politik paling jujur.
Rizkan Al Mubarrok memilih berdiri di barisan itu: barisan rakyat. Bukan sebagai penonton, bukan pula sebagai komentator yang aman dari risiko, tetapi sebagai jurnalis pejuang yang meyakini bahwa kesejahteraan tidak lahir dari pidato, gelar, atau seremoni, melainkan dari keberanian menyebut ketidakadilan apa adanya.
Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali membingungkan rakyat, Rizkan Al Mubarrok konsisten mengingatkan satu hal mendasar: masalah utama bangsa ini bukan kekurangan sumber daya, melainkan ketimpangan cara berpikir dan keberanian berpihak. Ketika informasi dijadikan alat kekuasaan, jurnalisme sejati harus kembali menjadi alat pembebasan.
Bagi Rizkan, berpikir jernih adalah senjata rakyat paling dasar. Ia menolak anggapan bahwa akal sehat hanya milik mereka yang berpendidikan tinggi atau duduk di ruang-ruang elit. Justru dari rakyat biasa, dari pasar, dari jalanan, dari obrolan sederhana, lahir logika paling jujur tentang hidup: apakah kebijakan ini adil, apakah janji ini masuk akal, dan siapa yang sebenarnya diuntungkan.
Dalam setiap narasinya, Rizkan Al Mubarrok menegaskan bahwa kesejahteraan rakyat tidak boleh direduksi menjadi angka pertumbuhan ekonomi semata. Kesejahteraan adalah soal rasa aman bekerja, kepastian hukum, harga kebutuhan pokok yang masuk akal, dan kesempatan hidup layak tanpa harus menjilat kekuasaan. Ketika rakyat masih harus memilih antara makan hari ini atau sekolah anak esok hari, maka ada yang salah dengan arah kebijakan.
Sebagai Ketua Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Sumatera, Rizkan membawa jurnalisme kembali ke akar keberaniannya. Ia percaya pers bukan pelengkap kekuasaan, melainkan pengawas yang berdiri sejajar dengan rakyat. Dalam banyak isu, dari tata kelola sumber daya alam hingga kebijakan publik daerah, sikapnya konsisten: kritik harus tajam, data harus kuat, dan keberpihakan harus jelas.
Rizkan memahami bahwa jurnalisme yang berpihak pada rakyat tidak selalu nyaman. Ia sering berhadapan dengan tekanan, stigma, bahkan upaya pembungkaman halus. Namun baginya, diam justru lebih berbahaya. Karena ketika jurnalis berhenti bersuara, ketidakadilan mendapat ruang tumbuh tanpa perlawanan.
Di era ketika banyak media terjebak pada klik dan sensasi, Rizkan Al Mubarrok memilih jalan yang lebih sunyi tetapi bermakna: membangun kesadaran. Ia meyakini bahwa rakyat yang terbiasa berpikir kritis tidak mudah ditipu janji, tidak gampang diadu domba, dan tidak rela haknya dirampas atas nama stabilitas.
Perjuangan ini bukan tentang satu orang, satu organisasi, atau satu media. Ini tentang menjaga agar suara untuk kepentingan rakyat tetap hidup di ruang publik. Tentang memastikan bahwa kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia tidak hanya berhenti sebagai slogan kampanye, tetapi menjadi tuntutan nyata yang terus diulang sampai didengar dan benar benar dapat terwujud dengan kekayaan alam yang berlimpah dan potensi Bangsa yang luar biasa.
Rizkan Al Mubarrok masih berdiri,Tidak bergeser dari barisan perjuangan. Tidak larut dalam euforia kekuasaan. Tidak tunduk pada kenyamanan semu. Selama masih ada rakyat yang dipinggirkan, selama keadilan belum menjadi milik Kita semua, selama kesejahteraan masih menjadi janji belaka, suara itu akan disuarakan terus hingga menggema di pusat kota sampai ke pelosok Negeri.
Karena bagi jurnalis pejuang, diam bukan pilihan. Dan bagi rakyat, berpikir jernih dengan fakta yang ada hingga saat ini adalah awal dari kemerdekaan yang sesungguhnya.
Salam Perjuangan Rakyat
Rakyat Cerdas, Rakyat Berdaulat