Membandingkan Najwa Shihab dan Rizkan Al Mubarrok dalam Menafsirkan Ancaman Zaman
Dalam percakapan publik, Najwa Shihab pernah menyampaikan kalimat yang memancing renungan: “Orang bodoh lebih berbahaya daripada orang jahat.” Pesan ini lahir dari kegelisahan demokrasi: masyarakat yang tidak berpendidikan mudah diprovokasi, gampang dimanipulasi, dan bisa menjadi alat bagi kekuasaan.
Namun, Rizkan Al Mubarrok Ketua Dewan Perwakilan Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Sumatera Raya dan jurnalis pejuang yang dikenal lantang menawarkan sudut pandang yang lebih tajam, filosofis, sekaligus Qur’ani: “Yang paling berbahaya justru orang pintar yang jahat. Karena dari kepintaran yang salah arah, lahirlah kerusakan paling nyata di muka bumi.”
- Kebodohan: Bahaya Pasif
Najwa tidak keliru. Kebodohan memang pintu masuk berbagai bencana sosial. Dalam politik, kebodohan kolektif melahirkan pemimpin yang salah, memperkuat oligarki, bahkan menjadi bahan bakar korupsi.
Al-Qur’an pun menyinggung keterbatasan manusia yang tidak mengetahui banyak hal:
“Sesungguhnya kebanyakan manusia itu tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 187)
Kebodohan membuat manusia mudah disesatkan. Namun, ia tetap bersifat pasif: kebodohan baru menjadi berbahaya ketika ada aktor pintar yang licik mengeksploitasinya.
- Kepintaran yang Jahat: Bahaya Aktif
Di sinilah Rizkan Al Mubarrok menguatkan argumennya: sejarah dunia menunjukkan bahwa kerusakan terbesar justru diciptakan oleh orang-orang pintar yang kehilangan adab.
Nuklir: senjata pemusnah massal karya ilmuwan brilian, yang menghanguskan Hiroshima dan Nagasaki, membunuh ratusan ribu orang tak berdosa.
Petrodollar: rekayasa keuangan global yang menjadikan Amerika Serikat pengendali ekonomi dunia, membuat negara-negara miskin terlilit hutang dan krisis pangan.
Eksploitasi Tambang: teknologi canggih mengeruk emas, batu bara, dan nikel, tetapi menyisakan kemiskinan akut, sungai beracun, dan hutan gundul.
Kerusakan Lingkungan: merkuri di sungai, limbah industri di laut, ozon yang bolong ,semua lahir dari ilmu yang digunakan tanpa moral.
Kepintaran yang jahat aktif menghancurkan peradaban, berbeda dengan kebodohan yang hanya memudahkan manipulasi.
- Zionisme: Kepintaran Tanpa Adab di Akhir Zaman
Al-Qur’an sudah mengingatkan tentang satu golongan yang dikaruniai kecerdasan, tetapi menggunakannya untuk membuat kerusakan: kaum Yahudi Zionis.
Firman Allah:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” (QS. Al-Baqarah: 11–12)
Inilah wajah Zionisme modern: jenius , pintar , terorganisir, menguasai ekonomi, media, dan politik dunia. Tetapi kecerdasan itu dipakai untuk:
merampas tanah Palestina,
memicu peperangan dan konflik abadi,
menciptakan sistem keuangan global yang menindas,
melahirkan teknologi pemusnah massal.
Sejarah mencatat: bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki adalah buah kepintaran ilmuwan yang diperalat politik global. Ratusan ribu orang mati sia-sia. Itulah contoh nyata betapa kepintaran tanpa adab lebih mematikan daripada kebodohan.
- Adab Lebih Tinggi daripada Ilmu
Rizkan Al Mubarrok menegaskan: kebodohan tanpa niat jahat tidaklah berbahaya. Orang bodoh masih bisa diarahkan, dididik, dan diberi pemahaman.
Rasulullah SAW pun pernah berinteraksi dengan kaum badui yang kasar dan polos. Beliau tidak marah, tidak menghina, melainkan mendidik dengan kelembutan.
Sebaliknya, orang pintar yang kehilangan adab justru menjelma pengkhianat kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barangsiapa menipu kami, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)
Kepintaran tanpa akhlak melahirkan keserakahan,kerakusan, kolonialisme, imperialisme, dan perang.
- Siapa yang Lebih Berbahaya?
Jika kebodohan adalah bara, maka kepintaran yang jahat adalah api yang melahap seluruh hutan. Bara hanya berbahaya jika disentuh, tapi api bisa menghancurkan dunia.
Najwa Shihab benar bahwa kebodohan bisa membahayakan masyarakat. Namun, analisa Rizkan atau yang biasa akrab di sapa barrok lebih menyentuh akar peradaban: kerusakan bumi ini lahir dari kepintaran yang dipakai untuk kejahatan.
Dari nuklir, petro dollar, kolonialisme, hingga zionisme global semua adalah bukti bahwa kepintaran yang jahatlah yang paling berbahaya di akhir zaman.
Dua pandangan ini tidak perlu dipertentangkan secara personal. Najwa mengingatkan bahaya kebodohan. Rizkan mengingatkan bahaya yang lebih besar: kepintaran tanpa adab, kepintaran yang dipakai untuk kejahatan.
Dan sejarah sudah menjawab: bom atom, krisis global, kerusakan lingkungan, dan penjajahan modern tidak pernah lahir dari kebodohan. Semuanya lahir dari orang pintar yang jahat.
Inilah ancaman nyata umat manusia di akhir zaman.
Rakyat Cerdas.