Jambi – Dalam dunia yang semakin dikuasai oleh kecerdasan buatan, gelar akademik, dan pencitraan publik, ada satu nilai yang semakin langka namun tetap paling berharga: kejujuran.
Rizkan Al Mubarrok, Ketua Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Sumatera Raya, menyampaikan analisa tajamnya bahwa menjadi orang jujur jauh lebih penting daripada menjadi orang pintar, sebab orang jujur bisa menjadi pintar, tetapi orang pintar belum tentu bisa menjadi jujur.

Pernyataan itu bukan sekadar nasihat moral, melainkan tamparan halus bagi elite bangsa yang sering mengukur kepantasan dari kepintaran semu, bukan ketulusan nurani.
Di tengah zaman ketika korupsi yang gila gilaan, Rizkan mengajak publik menilai ulang apa arti Pintar yang sesungguhnya.

“Kepintaran tanpa kejujuran itu seperti pisau tajam di tangan perampok. Ia tidak memberi kehidupan, hanya menciptakan luka baru bagi rakyat,” tegas Rizkan dengan nada reflektif.

Pintar Tanpa Nurani: Akar dari Semua Krisis

Bangsa ini, kata Rizkan, tidak kekurangan orang pintar. Lulusan terbaik universitas luar negeri bertebaran, ahli ekonomi dan politik tampil setiap hari di televisi.
Namun fakta di balik itu, rakyat tetap miskin, hukum tetap tumpul ke atas, dan kekuasaan tetap jadi arena transaksi.

Puluhan tahun Indonesia kita telah merdeka ,Bangsa tercinta ini telah lama dikuasai oleh para petinggi: mulai dari insinyur, jenderal bintang lima, hingga profesor bergelar panjang, tetapi faktanya hingga hari ini, dengan kekayaan alam yang melimpah dan potensi bangsa yang luar biasa, kita masih memiliki jutaan rakyat miskin bahkan masih banyak yang hidup dalam miskin ekstrem.

“Artinya jelas, yang hilang dari bangsa ini bukan kepintaran, tapi kejujuran. Kita tidak sedang kekurangan orang cerdas, kita sedang kelaparan akan orang jujur,” ujar Rizkan dengan nada tajam.

Ketika kejujuran hilang dari ruang kekuasaan, seluruh sistem pemerintahan akan pincang.
APBD bisa disulap jadi proyek fiktif, data kemiskinan bisa dimanipulasi demi anggaran, dan keputusan publik bisa dibeli dengan amplop tebal.
Orang pintar bisa menulis laporan hebat, tapi tanpa kejujuran, laporan itu hanya jadi hiasan di lemari dosa.

Jujur Itu Mahal, Tapi Tak Tergantikan

Menurut analisa Rizkan, kejujuran adalah inti dari keadilan sosial. Ia adalah fondasi moral bangsa yang tak bisa diganti oleh teknologi, jabatan, atau gelar apa pun.
Bahkan di dunia jurnalistik, Rizkan mengingatkan bahwa jurnalis sejati bukan diukur dari kepintarannya menulis, tetapi keberaniannya menulis dengan jujur.

“Media boleh pintar mengolah kata, tapi tanpa kejujuran, berita hanyalah propaganda. Kejujuran adalah napas dari setiap huruf yang ditulis untuk rakyat,” ujarnya.

Rizkan menegaskan, pejabat dan wartawan sejati punya tanggung jawab moral yang sama: menjaga kebenaran, meski dunia berusaha menutupinya. Karena pada akhirnya, kecerdasan tanpa kejujuran hanya melahirkan kebusukan yang tampak rapi.

Refleksi Bangsa: Saat Kepintaran Tak Lagi Memanusiakan

Bagi Rizkan, bangsa Indonesia sedang diuji: antara menjadi Pintar di atas kertas atau jujur dalam tindakan.
Ia menyebut, Kepintaran yang tidak diimbangi kejujuran justru melahirkan generasi yang pandai memanipulasi, pandai beretorika, tapi miskin nurani.

“Bangsa ini butuh pemimpin jujur, bukan sekadar pintar berpidato. Butuh pejabat yang jujur menghitung anggaran, bukan pintar menghilangkan jejak(memanipulasi data anggaran keuangan rakyat),” tegasnya.

Rizkan juga menyoroti bahwa banyak kebijakan publik yang indah di atas kertas tapi hampa di lapangan ,karena dijalankan oleh otak pintar dengan berbagai gelar tanpa hati yang jujur.
“Kejujuran adalah bahan bakar dari pembangunan sejati. Tanpanya, kepintaran hanya jadi mesin yang berjalan tanpa arah,” tambahnya.

Jujur Itu Revolusi Senyap

Rizkan menutup analisa moralnya dengan kalimat yang menggugah:

“Menjadi jujur di tengah dunia yang penuh kebohongan adalah bentuk perlawanan tertinggi. Kejujuran adalah revolusi senyap yang mampu mengguncang sistem busuk dari dalam.”

Bagi Rizkan Al Mubarrok, perjuangan membangun bangsa tak dimulai dari laboratorium atau ruang seminar, tapi dari hati yang memilih jujur meski dunia yang penuh tipu daya ini terkadang menertawakan.
Ketika jurnalis, pejabat, dan rakyat sama-sama memilih jujur, maka kepintaran sejati akan lahir,bukan dari gelar, tapi dari keberanian menjaga kebenaran.

Penulis: Tim Redaksi Nasional
Analisa & Refleksi Moral oleh Rizkan Al Mubarrok
Ketua Dewan Perwakilan Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Sumatera Raya

By Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *