Opini Tidak Pernah Netral
Opini publik sering dianggap lahir dari kebebasan berpikir masyarakat.
Padahal dalam sistem modern, opini lebih sering diproduksi daripada ditemukan.
Yang berbahaya bukan ketika manusia dipaksa setuju,
melainkan ketika mereka merasa sampai pada kesimpulan sendiri,
padahal jalurnya sudah diarahkan sejak awal.
Di sinilah produksi opini bekerja:
tenang, konsisten, dan hampir tak terlihat.
- Opini Dibentuk dari Bingkai, Bukan Fakta
Fakta jarang berdiri sendiri.
Ia selalu hadir bersama bingkai.
Yang dikendalikan bukan kebenaran peristiwa, melainkan:
- bagian mana yang ditonjolkan
- sudut pandang yang dipilih
- urutan penyajian
- emosi yang menyertainya
Dua kejadian serupa bisa melahirkan opini publik yang bertolak belakang
hanya karena bingkai yang berbeda.
Opini publik tidak lahir dari data,
tetapi dari cara data dirasakan.
- Repetisi Lebih Kuat daripada Kebenaran
Sistem opini tidak mengejar kebenaran mutlak.
Ia mengejar keterbiasaan.
Narasi yang:
- terus diulang
- muncul lintas platform
- didukung figur publik
- diperkuat “pakar resmi”
akan terasa benar,
meski lemah secara substansi.
Manusia mencari rasa aman kognitif,
dan repetisi menyediakan rasa aman itu.
- Siapa yang Boleh Bicara, Siapa yang Harus Diam
Produksi opini selalu dimulai dengan satu filter: siapa yang dianggap kredibel.
Bukan berdasarkan kebenaran argumen,
melainkan kedekatan dengan sistem:
- akses media
- legitimasi institusional
- kesesuaian dengan kepentingan besar
Suara di luar lingkar ini:
- dilabeli ekstrem
- diragukan motifnya
- diserang karakternya
Bukan argumen yang dipatahkan,
melainkan hak untuk didengar.
- Emosi sebagai Mesin Utama
Opini publik jarang digerakkan oleh logika murni.
Ia digerakkan oleh:
- ketakutan
- kemarahan
- rasa bersalah
- keinginan diterima
- ketakutan dikucilkan
Media dan algoritma memahami ini dengan sangat presisi.
Konten yang:
memecah → diperluas
memancing emosi → diprioritaskan
menenangkan dan kritis → diperlambat
Bukan kesalahan teknis.
Ini optimalisasi keterlibatan.
- Polarisasi: Konflik yang Sengaja Dipelihara
Ketika opini publik mulai terbelah,
sistem tidak buru-buru menyatukan.
Justru:
- dua kubu dipertegas
- isu kompleks disederhanakan
- masyarakat dipaksa memilih sisi
Saat rakyat sibuk bertengkar horizontal,
struktur di atas menjadi tak tersentuh.
Ini bukan kegagalan sistem.
Ini cara kerjanya.
- Ilusi Mayoritas
Manusia takut sendirian.
Maka sistem menciptakan ilusi:
“Semua orang berpikir seperti ini.”
Caranya:
tren yang dikurasi
polling selektif
komentar dominan ditampilkan
suara berbeda dipinggirkan
Banyak orang akhirnya setuju
bukan karena yakin,
tetapi karena takut berada di luar.
Opini publik lahir dari tekanan sosial,
bukan keyakinan personal.
- Hubungan Langsung dengan Uang dan Kekuasaan
Opini publik bukan tujuan akhir.
Ia alat legitimasi.
Dengan opini yang tepat:
- kebijakan keras bisa diterima
- krisis dinormalisasi
- perang dibenarkan
- penderitaan rakyat dianggap perlu
Uang membiayai media.
Media membentuk opini.
Opini memberi kekuasaan pembenaran.
Siklusnya tertutup rapi.
- Puncak Keberhasilan Sistem
Keberhasilan terbesar produksi opini bukan saat rakyat diam,
melainkan saat mereka:
- mengejek yang kritis
- menyerang yang bertanya
- membela sistem yang menyempitkan hidupnya
Di titik ini,
sistem tidak lagi butuh represi.
Rakyat sudah menjaga penjara mentalnya sendiri.
Pertanyaan yang Mengganggu
Jika opini bisa diproduksi,
jika emosi bisa diarahkan,
jika mayoritas bisa direkayasa,
maka pertanyaan terpenting bukan:
“Apa pendapatmu?”
melainkan:
“Dari mana pendapat itu berasal?”
Dan berapa banyak kemungkinan
yang tidak pernah kamu lihat.