Pesan Abadi Ali bin Abi Thalib: Sebelum Berbeda Keyakinan, Kita Dipersatukan oleh Kemanusiaan

Viral Post – Di tengah dunia yang kerap dipenuhi konflik identitas, perbedaan agama, hingga pertentangan ideologi, sejarah Islam menyimpan satu pesan kemanusiaan yang begitu kuat dan melampaui zaman. Pesan itu datang dari sosok besar dalam peradaban Islam: Ali ibn Abi Talib.
Lebih dari 1.300 tahun lalu, Ali bin Abi Thalib menyampaikan sebuah nasihat kepemimpinan yang hingga kini terus dikutip oleh para pemikir, sejarawan, hingga aktivis kemanusiaan di berbagai belahan dunia.
Kalimat itu sederhana, namun memiliki kedalaman makna yang luar biasa:
“Manusia itu ada dua jenis: saudaramu dalam agama, atau setaramu dalam kemanusiaan.”
Ucapan tersebut berasal dari surat Ali kepada gubernur Mesir yang ia tunjuk, Malik al-Ashtar. Nasihat itu tercatat dalam kitab klasik Nahj al-Balagha, sebuah karya monumental yang mengumpulkan khutbah, surat, serta kata-kata hikmah Ali bin Abi Thalib.

Surat tersebut dikenal luas sebagai salah satu dokumen politik dan moral paling berpengaruh dalam sejarah Islam.
Kepemimpinan yang Berbasis Kemanusiaan
Dalam pesannya kepada Malik al-Ashtar, Ali bin Abi Thalib tidak hanya berbicara tentang administrasi pemerintahan. Ia menekankan prinsip yang jauh lebih mendasar: bahwa rakyat yang dipimpin seorang penguasa tidak boleh diperlakukan secara diskriminatif.
Menurut Ali, seorang pemimpin harus memandang rakyatnya dalam dua posisi yang setara:
Mereka yang seiman adalah saudara dalam keyakinan
Mereka yang berbeda agama adalah sesama manusia dalam kemanusiaan
Prinsip tersebut menegaskan bahwa keadilan tidak boleh dibatasi oleh identitas, suku, atau agama. Semua manusia memiliki martabat yang sama.
Pesan ini juga menekankan bahwa kekuasaan tidak boleh digunakan untuk menindas, melainkan untuk melindungi masyarakat secara menyeluruh.

Warisan Pemikiran yang Mendahului Zaman

Banyak sejarawan dan akademisi menilai bahwa surat Ali kepada Malik al-Ashtar merupakan salah satu dokumen etika politik paling maju pada masanya.
Dalam teks tersebut, Ali juga menyinggung berbagai prinsip yang hari ini dianggap sebagai pilar tata kelola modern, seperti:
keadilan bagi seluruh rakyat
perlindungan terhadap kelompok lemah
pengawasan terhadap pejabat
larangan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan
kewajiban pemimpin mendengar keluhan masyarakat
Karena kedalaman gagasannya, surat ini sering dipelajari dalam kajian sejarah politik Islam dan filsafat pemerintahan.

Relevansi di Dunia Modern

Lebih dari satu milenium berlalu, pesan Ali bin Abi Thalib tetap terasa relevan. Di tengah dunia yang sering terpecah oleh perbedaan identitas, kalimat tersebut menjadi pengingat kuat bahwa kemanusiaan harus selalu berada di atas sekat-sekat yang memisahkan manusia.
Pesan ini juga menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang adil dan damai.
Sebab pada akhirnya, sebelum manusia dibedakan oleh agama, bangsa, atau ideologi, mereka terlebih dahulu dipersatukan oleh satu hal yang sama yaitu kemanusiaan.

Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *