Mengapa Orang Pintar yang Jahat Adalah Ancaman Paling Nyata bagi Umat Manusia ?
Oleh: Rizkan Al Mubarrok
Ketua Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Sumatera


TESIS UTAMA :
Seluruh kehancuran besar dalam sejarah manusia lahir dari kepintaran yang dipisahkan dari moral.
Tidak satu pun lahir dari kebodohan murni.
Ini bukan opini.
Ini fakta historis, ilmiah, dan filosofis.
I. KEBODOHAN TIDAK PERNAH MENJADI ARSITEK KEJAHATAN
Dalam ilmu politik dan sosiologi, kebodohan didefinisikan sebagai ketiadaan kapasitas analitik, bukan sebagai daya cipta destruktif.
Hannah Arendt — filsuf Yahudi Jerman paling berpengaruh abad ke-20 — dalam Eichmann in Jerusalem menyimpulkan satu hal penting:
“Kejahatan terbesar dalam sejarah tidak dilakukan oleh orang bodoh,
melainkan oleh orang-orang terdidik yang berhenti berpikir secara moral.”
Ini dikenal sebagai konsep The Banality of Evil.
➡️ Artinya:
kejahatan sistemik justru lahir dari kepatuhan cerdas tanpa nurani, bukan dari ketidaktahuan.
II. BUKTI EMPIRIS: KEHANCURAN DUNIA ADALAH PRODUK KECERDASAN
Mari kita uji dengan fakta yang tak terbantahkan.

  1. Bom Atom (Hiroshima & Nagasaki)
    Dirancang oleh ilmuwan fisika paling jenius: Oppenheimer, Fermi, Teller.
    Albert Einstein sendiri kemudian menyesal telah membuka jalan teoretisnya.
    Einstein berkata:
    “The unleashed power of the atom has changed everything except our way of thinking.”
    ➡️ Masalahnya bukan ilmu. Masalahnya adalah moral yang tertinggal.
  2. Sistem Utang Global & Neokolonialisme Ekonomi
    IMF, World Bank, dan sistem Bretton Woods dibangun oleh ekonom terkemuka dunia.
    Dampaknya:
    negara berkembang terjebak debt trap, subsidi dicabut, pendidikan & kesehatan runtuh.
    Joseph Stiglitz (Peraih Nobel Ekonomi):
    “Globalization has been managed in a way that benefits the few at the expense of the many.”
    ➡️ Ini rekayasa cerdas, bukan kebodohan.
  3. Kerusakan Lingkungan Global
    Laporan IPCC (PBB) menyimpulkan:
    Krisis iklim disebabkan oleh industri berbasis sains tinggi, bukan aktivitas rakyat miskin.
    Teknologi tahu dampaknya — namun tetap dijalankan demi laba.
    ➡️ Ini kesengajaan berilmu.
    III. AL-QUR’AN SUDAH MENYEBUT MEREKA SEJAK 14 ABAD LALU
    Al-Qur’an tidak mengutuk kebodohan.
    Al-Qur’an mengutuk kerusakan yang disadari.
    “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
    (QS. Al-A’raf: 56)
    Dan lebih tajam:
    “Mereka berkata: kami hanya melakukan perbaikan.
    Padahal merekalah pembuat kerusakan.”
    (QS. Al-Baqarah: 11–12)
    ➡️ Ini profil psikologis elite modern:
    cerdas,
    terdidik,
    fasih bicara pembangunan,
    tapi menghancurkan kemanusiaan secara sistemik.
    IV. NAJWA SHIHAB BENAR — TAPI BELUM TUNTAS
    Najwa Shihab benar ketika memperingatkan bahaya kebodohan publik.
    Namun itu baru permukaan masalah.
    Kebodohan tidak menciptakan sistem.
    Kebodohan tidak menulis undang-undang eksploitatif.
    Kebodohan tidak mendesain algoritma penindasan.
    ➡️ Yang menciptakan semuanya adalah orang pintar yang memilih jahat.
    V. PERLAWANAN TERBUKA: APA YANG HARUS DILAWAN?
    Perlawanan hari ini bukan melawan ilmu.
    Bukan melawan pendidikan.
    Bukan melawan kecerdasan.
    Perlawanan hari ini adalah melawan kepintaran yang tidak tunduk pada adab.
    Rizkan Al Mubarrok menegaskan sikap:
    “Kita tidak melawan orang pintar.
    Kita melawan kepintaran yang mengkhianati kemanusiaan.”
    Karena dalam Islam:
    Ilmu tanpa akhlak = fitnah terbesar.
    VI. KESIMPULAN FINAL
    Tidak ada genosida tanpa orang pintar.
    Tidak ada penjajahan modern tanpa orang pintar.
    Tidak ada kehancuran ekologis tanpa orang pintar.
    ➡️ Kebodohan bisa diajar.
    Kepintaran yang jahat harus dibatasi, diawasi, dan dilawan secara etis, hukum, dan intelektual.
    Jika tidak, dunia akan terus dikuasai oleh orang-orang yang tahu persis apa yang mereka lakukan namun tetap melakukannya.
    Dan itu, dalam sejarah mana pun,
    selalu menjadi awal kehancuran peradaban.
    CATATAN EDITORIAL
    Tulisan ini adalah perlawanan intelektual terbuka, bukan hasutan kekerasan.
    Ia berdiri di atas:
    sejarah,
    sains,
    filsafat,
    dan wahyu.

By Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *