Persaingan global memasuki fase baru ketika teknologi menjadi pusat kekuatan nasional. Semikonduktor, kecerdasan buatan, dan infrastruktur digital berubah menjadi aset strategis yang menentukan keunggulan ekonomi dan militer.
Amerika Serikat dan sekutunya memberlakukan pembatasan ekspor teknologi tinggi kepada China dengan alasan keamanan nasional.
Bagi China, pembatasan ini dipandang sebagai upaya sistematis untuk menahan kebangkitan teknologi nasionalnya.
Konflik pun bergeser dari tarif dagang ke kontrol rantai pasok teknologi.
Taiwan menempati posisi krusial sebagai produsen chip canggih dunia.
Ketergantungan global pada produksi chip Taiwan menjadikan stabilitas kawasan ini sebagai kepentingan internasional. Setiap ketegangan di Selat Taiwan berpotensi memicu gangguan ekonomi global.
Perang teknologi tidak menghasilkan korban langsung di medan tempur, tetapi berdampak luas pada industri, inovasi, dan posisi strategis negara.
Negara yang tertinggal dalam teknologi berisiko kehilangan daya tawar dalam sistem internasional.