Banyak orang asing yang datang ke Indonesia pulang dengan satu pertanyaan sederhana,
tapi sulit mereka temukan jawabannya di negaranya sendiri:
“Kenapa orang Indonesia bisa tetap ramah?”
Di tengah hidup yang tidak mudah,
di tengah ekonomi yang menekan,
di tengah perbedaan yang begitu banyak—
kita masih menyapa, tersenyum, dan menolong.
Bagi dunia luar, ini bukan hal biasa.
Ini fenomena sosial.
Keramahan yang Tidak Dibuat-Buat
Di banyak negara maju, keramahan adalah layanan.
Dibayar.
Diatur.
Diajarkan sebagai profesionalitas.
Di Indonesia, keramahan adalah kebiasaan hidup.
Menyapa tanpa kenal.
Menolong tanpa diminta.
Mengobrol tanpa curiga.
Orang asing sering kaget karena:
Bantuan datang tanpa agenda,
senyum datang tanpa maksud.
Dunia Luar Sibuk Menjaga Jarak, Kita Terbiasa Mendekat
Banyak budaya mengajarkan: “Jangan ikut campur.”
“Urus hidup sendiri.”
“Jaga jarak.”
Indonesia justru tumbuh dengan: “Kalau bisa bantu, kenapa tidak?”
“Kalau orang susah, masa dibiarkan?”
Di mata dunia, ini kekuatan sosial yang hampir punah.
Ramah Bukan Berarti Lemah
Sering kali kita sendiri meremehkan keramahan.
Dianggap terlalu lunak.
Dianggap tidak tegas.
Dianggap kalah oleh yang kasar.
Padahal orang luar melihat sebaliknya: bangsa yang bisa tetap ramah tanpa runtuh
adalah bangsa yang punya kontrol diri.
Ramah itu pilihan.
Dan memilih ramah di tengah tekanan,
itu tanda kekuatan batin.
Dunia Mengagumi, Kita Malah Malu
Ironisnya, saat orang luar kagum,
kita justru sering:
Menganggap budaya sendiri kuno
Meremehkan nilai lama
Ingin meniru sikap dingin bangsa lain
Padahal, keramahan itulah yang membuat Indonesia:
Mudah diterima
Dihormati
Dipercaya
Hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan teknologi atau kekuatan militer.
Jangan Sampai Kita Kehilangan Ini
Kalau suatu hari: orang berhenti menyapa,
berhenti peduli,
berhenti menolong—
Indonesia mungkin tetap ada di peta,
tapi jiwanya hilang.
Keramahan bukan warisan kecil.
Ia adalah perekat bangsa.
Kita Indonesia, Jaga yang Membuat Kita Berbeda
Kita boleh maju.
Kita boleh modern.
Kita boleh kritis.
Tapi jangan sampai: kemajuan membuat kita dingin,
kesibukan membuat kita cuek,
ambisi membuat kita lupa adab.
Kalau hari ini kamu masih ramah di tengah dunia yang keras,
kamu sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga.
Dan itulah alasan dunia masih kagum pada Indonesia.