Indonesia dalam Jebakan Ekonomi Pengangkut Global

JAKARTA — Bayangkan sebuah bangsa berdiri di dermaga pelabuhan dunia. Setiap hari ia mengangkat peti-peti berat, keringat jatuh ke tanah, otot menegang, waktu habis. Namun ketika kapal berlayar membawa muatan itu menuju negeri seberang, bangsa itu tak ikut berangkat. Ia hanya menatap dari kejauhan, menyaksikan hasil kerjanya berubah menjadi kemakmuran orang lain.
Metafora itu bukan puisi. Itulah potret paling jujur dari struktur ekonomi Indonesia hari ini.
Indonesia bukan negara malas. Produksi terus meningkat, ekspor tumbuh, investasi asing masuk. Data makro tampak sehat. Namun di balik angka-angka itu, ada satu fakta pahit: kekayaan nasional tidak pernah benar-benar mengendap di dalam negeri.

Ekonomi Sibuk, Hasil Tipis

Lebih dari separuh ekspor Indonesia masih berbentuk bahan mentah dan setengah jadi , seperti batu bara, nikel, kelapa sawit, bauksit, dan mineral lainnya. Komoditas ini menyumbang devisa besar, tetapi nilai tambahnya dinikmati di luar negeri.
Bahan mentah dikirim keluar dengan harga murah, diolah menjadi produk bernilai tinggi, lalu kembali ke Indonesia sebagai barang jadi dengan harga berlipat. Negara terlihat aktif bekerja, tetapi keuntungan strukturalnya bocor sejak awal.
Masalahnya bukan pada komoditas itu sendiri. Masalahnya ada pada absennya kendali atas rantai nilai. Negara penjual bahan mentah selalu berada di posisi tawar terendah. Harga ditentukan pasar global, bukan oleh produsen. Ketika harga jatuh, negara terpukul. Ketika harga naik, negara hanya menikmati euforia sementara.

Jebakan Komoditas yang Tak Pernah Diputus

Setiap kali harga komoditas melonjak, optimisme muncul. Penerimaan negara naik, pertumbuhan ekonomi membaik, narasi keberhasilan digaungkan. Namun ketika siklus berbalik, anggaran tertekan, defisit melebar, dan rakyat kembali diminta “bersabar”.
Pola ini bukan anomali. Ini jebakan komoditas,sebuah kondisi struktural yang sudah berlangsung puluhan tahun. Negara kaya sumber daya, tetapi miskin strategi industrial. Kaya tanah, miskin kendali. Kaya produksi, miskin penguasaan teknologi.
Tak ada negara maju yang tumbuh dari ekspor bahan mentah semata. Jepang, Korea Selatan, Jerman, bahkan Tiongkok,semuanya membangun kekuatan dari hilirisasi, manufaktur, dan penguasaan teknologi, bukan dari menjual tanahnya dalam bentuk mentah.

Pertumbuhan yang Tidak Naik ke Meja Makan

Sementara itu, mayoritas tenaga kerja Indonesia terjebak di sektor dengan produktivitas rendah. Upah bergerak lambat, sementara biaya hidup terus naik. Rakyat bekerja lebih lama hanya untuk mempertahankan standar hidup yang sama.
Di sinilah paradoks paling menyakitkan:
ekonomi tumbuh, tetapi kesejahteraan tidak terasa.
Pertumbuhan tidak menetes ke bawah karena memang tidak dirancang untuk mengalir ke sana. Nilai tambah berhenti di luar negeri, sementara di dalam negeri hanya tersisa pekerjaan kasar dengan margin tipis.
Ini bukan soal mentalitas rakyat. Bukan soal malas atau kurang kerja keras. Ini soal arsitektur ekonomi nasional yang membiarkan hasil kerja rakyat menjadi bahan bakar bagi industri negara lain.
Siapa yang Menguasai Hasil Kerja?
Negara yang kaya bukanlah negara yang paling keras bekerja, tetapi negara yang paling mampu menguasai hasil kerjanya sendiri. Selama Indonesia hanya berperan sebagai pengangkut di pelabuhan global,penyedia bahan mentah dan tenaga murah,maka kerja keras rakyat akan terus berbuah kemakmuran di tempat lain.
Tidak ada kesejahteraan yang lahir dari sisa-sisa pertumbuhan. Tidak ada keadilan ekonomi yang muncul dari struktur yang timpang. Sejarah ekonomi dunia tidak pernah mencatat satu pun bangsa yang menjadi makmur dengan cara seperti ini.

Ini Bukan Pesimisme, Ini Peta Masalah

Analisis ini bukan keluhan, apalagi sikap anti-pembangunan. Ini peta masalah. Dan setiap peta selalu punya jalan keluar,asal ada keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya, bukan sekadar merayakan angka.
Selama negara belum berani mengunci nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri pengolahan, dan menaikkan kelas tenaga kerjanya, Indonesia akan terus bekerja keras…
namun tetap berdiri di dermaga, menatap kapal kekayaan berlayar menjauh.

By Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *