Negara-negara berkembang berada pada posisi yang kompleks di tengah meningkatnya gesekan antar kekuatan besar. Ketergantungan pada impor energi, pangan, dan teknologi membuat mereka rentan terhadap dampak tidak langsung dari konflik global.
Sanksi ekonomi, gangguan rantai pasok, dan fluktuasi harga komoditas memukul stabilitas domestik. Inflasi meningkat, utang membesar, dan ruang fiskal menyempit. Negara-negara ini jarang menjadi pihak utama konflik, tetapi sering menanggung dampak paling berat.
Di Asia Tenggara, posisi geografis yang strategis menjadikan kawasan ini sebagai jalur perdagangan dan arena persaingan pengaruh.
Negara-negara di kawasan ini berupaya menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan tanpa terjebak dalam konflik terbuka.
Pilihan kebijakan luar negeri menjadi semakin terbatas. Setiap keputusan ekonomi atau diplomatik berpotensi dibaca sebagai keberpihakan.
Ketahanan nasional tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi oleh kemampuan mengelola tekanan eksternal yang saling bertabrakan.