Sejak lama, kerja keras dijadikan mantra. Siapa yang gagal dianggap kurang berusaha, siapa yang tertinggal disuruh berlari lebih cepat.
Padahal banyak orang sudah berlari sejauh mungkin, sampai napas habis, tapi garis finish tidak pernah mendekat.
Bukan karena langkahnya salah, melainkan karena lintasan yang dilalui memang tidak dirancang untuk semua orang menang.
Sistem kerja dan ekonomi hari ini lebih menghargai posisi awal dibanding usaha di tengah jalan.
Mereka yang memulai dengan akses, modal, dan jaringan melaju dengan hambatan minim.
Sementara yang berangkat dari nol harus melewati rintangan berlapis. Data kasar menunjukkan mobilitas sosial makin melambat.
Anak dari keluarga biasa semakin sulit naik kelas, meski bekerja lebih keras dibanding generasi sebelumnya.
Kerja keras tetap penting, tetapi tidak cukup ketika aturannya timpang.
Orang diminta produktif, fleksibel, dan terus belajar, sementara imbalannya stagnan dan risikonya ditanggung sendiri.
Sistem menuntut adaptasi tanpa memberi perlindungan.
Akibatnya, kerja keras berubah dari jalan menuju kemajuan menjadi alat untuk bertahan agar tidak jatuh lebih dalam.
Narasi bahwa semua bisa sukses asal berusaha justru menutup diskusi yang lebih penting.
Tentang struktur, akses, dan siapa yang diuntungkan oleh desain sistem saat ini.
Selama kegagalan selalu dibingkai sebagai kesalahan individu, sistem tidak pernah dipaksa berubah.
Ini bukan akhir pembahasan. Ini baru pengakuan jujur. Banyak orang tidak malas, tidak bodoh, dan tidak salah arah.
Mereka hanya bekerja di sistem yang salah.
Dan selama sistem itu tidak dipertanyakan, kerja keras akan terus terasa berat, panjang, dan sering kali sia-sia.