Jambi, 2026 — Ketika melihat gumpalan awan besar di angkasa, banyak yang bertanya: “Jika awan bisa memiliki massa sangat besar , bahkan setara ratusan ton .mengapa mereka tidak langsung jatuh ke bumi seperti benda berat lainnya?” Fenomena ini ternyata bukan sekadar “ilusi”, melainkan hasil interaksi fisika atmosfer yang kompleks namun fasih dijelaskan oleh ilmu pengetahuan modern.

Awan Ternyata Bukan Benda Solid

Awan bukan benda padat seperti batu atau besi, melainkan kumpulan jutaan tetesan air mikroskopis atau kristal es yang tersuspensi di udara. Rata-rata ukuran tetesan awan sangat kecil, jauh lebih kecil dari diameter rambut manusia ,sehingga massa tiap tetesan sangat ringan. Gravitasi tetap menarik tetesan itu, tetapi daya dorong hambatan udara (drag) pada tetesan super kecil ini sangat besar sehingga mereka jatuh perlahan sekali, nyaris tak terlihat oleh mata manusia.
Para ilmuwan atmosfer menjelaskan bahwa rata-rata tetesan awan sering kali lebih kecil dari 0,02 milimeter, dan dalam kondisi tersebut kecepatan jatuhnya sangat lambat , kurang dari beberapa sentimeter per detik. Alhasil, meski total massa awan bisa setara pesawat jumbo, partikel-partikel kecil ini tidak “jatuh” langsung ke permukaan bumi.

Peran Arus Udara Naik (Updraft)

Atmosfer bukan ruang hampa; ia penuh dengan arus konveksi dan updraft, yakni gerakan udara yang bergerak ke atas karena pemanasan oleh permukaan bumi. Udara hangat yang naik ini membawa uap air ke langit dan membantu menahan tetesan air di awan tetap melayang di ketinggian tertentu. Bahkan air yang secara teknis “jatuh” pun bisa tertahan oleh gerakan udara ini sehingga awan tampak stabil di angkasa.

Ini mirip seperti debu yang terlihat “terapung” dalam sinar matahari: partikel-partikel kecil itu tetap berada di udara bukan karena tidak tertarik oleh gravitasi, tetapi karena hambatan udara dan gerakan udara di sekitarnya yang kuat menahan gerak jatuhnya.

Distribusi Massa yang Sangat Tersebar

Walaupun massa total awan bisa mencapai ratusan ribu kilogram atau setara berat ratusan ton, massa itu tersebar sangat luas dalam volume awan yang besar. Karena itu, densitas (massa per satuan volume) awan sangat rendah dibandingkan densitas air cair atau benda padat. Tingkat densitas rendah inilah yang membuat awan mampu bertahan dalam lapisan atmosfer tanpa langsung terjun.

Kapan Awan “Jatuh” ke Bumi?

Awan tidak “jatuh” sebagai satu gumpalan berat sekaligus. Mereka baru melepaskan sebagian atau seluruh airnya dalam bentuk presipitasi (hujan, salju, atau hujan es) ketika kumulasi tetesan air di dalamnya cukup besar untuk mengatasi hambatan udara dan kekuatan updraft. Proses ini disebut koalesensi, ketika tetesan air saling bertabrakan dan bergabung menjadi tetesan yang jauh lebih besar. Setelah mencapai ukuran kritis, gravitasi menjadi lebih dominan dan air turun sebagai hujan.

Kesimpulan: Awan ‘Melayang’, Bukan ‘Terbang’

Fenomena awan yang terlihat “melayang” meski beratnya besar bukanlah keajaiban tanpa penjelasan. Ini adalah hasil dari:
Ukuran tetesan yang sangat kecil, membuatnya jatuh sangat lambat.
Arus udara naik (updraft) yang membantu menahan partikel di udara.
Distribusi massa yang luas, menciptakan densitas rendah sehingga awan tampak mengapung.
Dengan kata lain, awan mengambang karena hukum fisika atmosfer bekerja sedemikian rupa , bukan karena mereka tidak terpengaruh gravitasi, tetapi karena kondisi di atmosfer membuat efek jatuhnya sangat lambat sampai tetesan airnya cukup besar untuk menjadi hujan.

By Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *