Banyak masakan Indonesia lahir dari intuisi. Takaran “secukupnya” dan “kira-kira” adalah norma, bukan penyimpangan.
Dalam standar industri global, ini dianggap kelemahan. Namun justru di situlah fleksibilitas rasa Indonesia terbentuk. Masakan bisa menyesuaikan bahan, cuaca, dan selera lokal.
Upaya standarisasi sering membuat rasa kehilangan karakter. Ini dilema antara ekspansi dan keaslian.
Kuliner Indonesia membutuhkan model global yang berbeda,bukan meniru Barat, tapi menciptakan jalannya sendiri.