Membaca Ancaman Zaman melalui Pandangan Najwa Shihab dan Rizkan Al Mubarrok
Dalam diskursus publik Indonesia, Najwa Shihab pernah melontarkan satu pernyataan reflektif:
“Orang bodoh lebih berbahaya daripada orang pintar yang jahat.”
Pernyataan ini lahir dari kegelisahan demokrasi. Masyarakat yang minim literasi mudah diprovokasi, gampang dimanipulasi, dan sering kali dijadikan alat oleh elite kekuasaan. Dalam konteks politik elektoral dan arus informasi digital, kebodohan kolektif memang bisa menjadi bencana sosial.
Namun, Rizkan Al Mubarrok Ketua Dewan Perwakilan Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Sumatera Raya dan jurnalis pejuang mengajukan tafsir yang lebih tajam, filosofis, dan berakar pada nilai etika peradaban:
“Yang paling berbahaya bukan orang bodoh, melainkan orang pintar yang jahat. Karena dari kepintaran yang kehilangan adab, lahirlah kerusakan paling sistemik di muka bumi.”
Dua pandangan ini tidak saling meniadakan. Justru, keduanya membuka lapisan ancaman yang berbeda dalam membaca krisis zaman.
- Kebodohan: Ancaman yang Bersifat Pasif
Najwa Shihab tidak keliru. Kebodohan memang menjadi pintu masuk berbagai kehancuran sosial. Dalam politik, kebodohan kolektif melahirkan pemimpin yang salah. Dalam ekonomi, ia membuat rakyat mudah tertipu. Dalam media, ia menciptakan ruang subur bagi hoaks dan propaganda.
Al-Qur’an pun menyinggung keterbatasan pengetahuan manusia:
“Sesungguhnya kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Al-A’raf: 187)
Namun, kebodohan pada dasarnya bersifat pasif. Ia baru menjadi berbahaya ketika ada aktor cerdas yang secara sadar mengeksploitasinya. - Kepintaran yang Jahat: Ancaman yang Aktif dan Sistemik
Di sinilah Rizkan Al Mubarrok menggeser fokus analisis. Sejarah dunia membuktikan bahwa kerusakan terbesar tidak pernah lahir dari kebodohan, melainkan dari kepintaran yang kehilangan kompas moral.
Beberapa contoh nyata peradaban modern:
Senjata nuklir
Diciptakan oleh ilmuwan brilian, namun digunakan untuk memusnahkan ratusan ribu warga sipil di Hiroshima dan Nagasaki.
Sistem petrodollar dan rekayasa keuangan global
Menghasilkan dominasi ekonomi global, ketimpangan ekstrem, utang negara-negara berkembang, dan krisis pangan struktural.
Eksploitasi sumber daya alam
Teknologi tambang yang canggih mengeruk emas, batu bara, dan nikel, tetapi meninggalkan kemiskinan, sungai beracun, dan kehancuran ekologis.
Kerusakan lingkungan global
Limbah industri, krisis iklim, dan kehancuran ekosistem lahir dari ilmu pengetahuan yang digunakan tanpa etika.
Kepintaran yang jahat aktif menciptakan kerusakan, bukan sekadar membuka peluang manipulasi. - Ideologi Kekuasaan Global: Kepintaran Tanpa Adab
Al-Qur’an telah lama mengingatkan tentang kelompok atau sistem yang mengklaim membawa perbaikan, tetapi justru menciptakan kerusakan:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan. Ingatlah, merekalah pembuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.”
(QS. Al-Baqarah: 11–12)
Dalam konteks modern, peringatan ini relevan untuk membaca ideologi-ideologi kekuasaan global,termasuk proyek politik dan ekonomi yang dibungkus atas nama stabilitas, keamanan, atau kemajuan, tetapi berujung pada penjajahan, konflik berkepanjangan, dan penderitaan rakyat sipil.
Perang modern, kolonialisme gaya baru, dan penggunaan teknologi pemusnah massal adalah contoh bagaimana kepintaran luar biasa tanpa adab berubah menjadi mesin kehancuran. - Adab Lebih Tinggi daripada Ilmu
Rizkan Al Mubarrok menegaskan satu prinsip fundamental peradaban:
ilmu tanpa adab adalah ancaman.
Orang bodoh masih bisa diajari, dibimbing, dan disadarkan. Sejarah Nabi Muhammad SAW menunjukkan bagaimana Rasulullah mendidik masyarakat yang polos dan kasar dengan kelembutan, bukan dengan penghukuman.
Sebaliknya, orang pintar yang kehilangan akhlak justru menjadi perusak yang sadar dan terencana. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menipu kami, maka ia bukan dari golongan kami.”
(HR. Muslim)
Kepintaran tanpa moral melahirkan kolonialisme, imperialisme, eksploitasi, dan perang. - Siapa yang Lebih Berbahaya?
Jika kebodohan adalah bara, maka kepintaran yang jahat adalah api. Bara hanya berbahaya jika disentuh. Api mampu melahap seluruh hutan peradaban.
Najwa Shihab benar ketika mengingatkan bahaya kebodohan publik. Namun, analisis Rizkan Al Mubarrok menyentuh akar yang lebih dalam:
kerusakan dunia modern lahir dari kepintaran yang digunakan untuk kejahatan.
Bom atom, krisis ekonomi global, kerusakan lingkungan, dan penjajahan modern tidak pernah lahir dari kebodohan. Semuanya adalah produk orang-orang pintar yang kehilangan adab.
Inilah ancaman nyata umat manusia di zaman modern,bukan sekadar kurangnya pengetahuan, melainkan hilangnya moral dalam penggunaan ilmu.