Di banyak video konten kreator asing (content creator), ada satu kalimat yang sering muncul setelah mereka mencicipi nasi goreng Indonesia:
“This is familiar, but also very different.”
(ini terasa familiar, tapi juga sangat berbeda)
Kalimat itu menggambarkan posisi nasi goreng Indonesia di mata dunia. Ia bukan makanan asing bagi lidah global, tetapi juga tidak bisa disamakan dengan fried rice (nasi goreng versi negara lain) yang mereka kenal.
Pertanyaannya: apa yang membuat nasi goreng Indonesia terasa “kenal”, tapi tetap istimewa?
- Nasi Goreng:
Makanan Rakyat yang Tidak Ribet
Hal pertama yang membuat orang asing kagum adalah kesederhanaannya.
Nasi goreng Indonesia tidak datang dengan aturan kaku. Tidak ada takaran saklek, tidak ada teknik rumit.
Banyak kreator asing menyebutnya sebagai:
simple dish (hidangan sederhana)
humble food (makanan rendah hati)
everyday food (makanan harian)
Namun justru dari kesederhanaan inilah daya tariknya muncul.
Di mata mereka, nasi goreng Indonesia bukan makanan pamer teknik, tapi makanan yang jujur.
- Kenapa Rasanya Berbeda dari Fried Rice Lain?
Banyak orang asing awalnya mengira nasi goreng Indonesia sama dengan fried rice di negara mereka. Setelah suapan pertama, asumsi itu langsung gugur.
Perbedaannya bukan pada nasi, tapi pada:
aroma
rasa dasar
karakter
Nasi goreng Indonesia cenderung punya rasa:
lebih gurih
lebih dalam
sedikit manis
dan “berani”
Banyak kreator asing menyebut rasanya sebagai bold flavor (rasa yang tegas dan kuat). Bukan pedas yang menyerang, tapi rasa yang “berani hadir”.
Inilah yang membuat mereka sulit berhenti makan, meski tampilannya sederhana.
- Nasi Goreng dan Rasa “Rumah”
Menariknya, banyak orang asing mengaitkan nasi goreng Indonesia dengan rasa rumah, meski mereka tidak tumbuh dengan makanan ini.
Dalam dunia kuliner, ini disebut comfort food (makanan yang memberi rasa nyaman dan aman). Biasanya, comfort food hanya muncul dari makanan masa kecil. Tapi nasi goreng Indonesia sering melampaui batas itu.
Banyak kreator asing berkata:
“I could eat this every day.”
(aku bisa makan ini setiap hari)
Kalimat ini bukan soal rasa enak semata, tapi soal kenyamanan.
- Cara Penyajian yang Membumi
Di mata dunia, cara nasi goreng disajikan juga punya cerita.
Bukan di piring mewah, tapi:
di warung pinggir jalan
di gerobak malam
di dapur rumah
Orang asing sering terkejut dengan suasana makan nasi goreng:
santai
tanpa formalitas
tanpa jarak sosial
Mereka menyebut suasana ini sebagai casual dining (makan santai tanpa aturan kaku), sesuatu yang justru terasa mahal di negara-negara yang serba cepat dan individual.
- Nasi Goreng sebagai Identitas Diam-Diam
Banyak negara punya nasi goreng versi mereka.
Tapi nasi goreng Indonesia punya satu ciri kuat: ia tidak mencoba meniru siapa pun.
Ia tidak berusaha terlihat internasional.
Ia tetap lokal, apa adanya.
Justru karena itu, orang asing merasa nasi goreng Indonesia punya identity (identitas) yang jelas.
Bukan karena branding besar, tapi karena konsistensi rasa dan pengalaman.
Di banyak konten, nasi goreng sering disebut sebagai:
“simple but memorable”
(sederhana tapi membekas)
- Kenapa Nasi Goreng Mudah Diterima Dunia.
Jika rendang memukau karena kompleksitas, nasi goreng disukai karena keterbukaan. Ia tidak “mengintimidasi” lidah baru.
Bagi orang asing:
tidak perlu pengetahuan khusus
tidak perlu adaptasi lama
bisa langsung dinikmati
Dalam bahasa kuliner global, ini disebut approachable food (makanan yang mudah didekati dan dinikmati).
Dan itu adalah kekuatan besar.
Pelajaran dari Sepiring Nasi Goreng
Dari cara dunia melihat nasi goreng, kita belajar bahwa tidak semua yang mendunia harus rumit.
Kadang, yang paling jauh melangkah justru yang paling sederhana.
Nasi goreng Indonesia tidak datang membawa cerita besar.
Ia hanya hadir, hangat, dan jujur.
Dan dari situ, dunia memahami Indonesia pelan-pelan, tanpa paksaan.