Oleh: Rizkan Al Mubarrok
Ketua Dewan Perwakilan Sumatera — Aliansi Wartawan Nasional Indonesia
Ketika Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), perdebatan domestik segera muncul. Kritik mahasiswa, ekonom, hingga aktivis kebijakan publik menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang wajar. Namun jika kita mengangkat diskursus ini ke level intelektual internasional, persoalannya berubah dari sekadar perdebatan anggaran menjadi pertanyaan strategis yang jauh lebih besar: apakah Indonesia sedang membangun fondasi kekuatan abad ke-21?
Dalam teori pembangunan modern, kekuatan suatu negara tidak lagi hanya diukur dari sumber daya alam atau kekuatan militer, melainkan kualitas sumber daya manusianya. Negara-negara yang mendominasi ekonomi global hari ini ,dari Amerika Serikat hingga Korea Selatan , memiliki satu kesamaan utama: investasi besar pada kesehatan dan nutrisi generasi muda sejak dini.
Gizi bukan isu dapur. Gizi adalah geopolitik.
Anak yang kekurangan nutrisi bukan hanya berisiko mengalami stunting, tetapi juga kehilangan potensi kecerdasan, kreativitas, dan produktivitas ekonomi. Dalam skala nasional, jutaan anak dengan kualitas gizi rendah berarti jutaan potensi inovator, ilmuwan, dan pemimpin yang tidak pernah mencapai kapasitas maksimalnya. Dampaknya bukan hanya sosial, tetapi juga ekonomi makro dan daya saing global.
Dalam perspektif ekonomi politik internasional, MBG dapat dibaca sebagai strategi negara untuk mempercepat akumulasi human capital. Program ini berpotensi menghasilkan efek jangka panjang berupa peningkatan kualitas tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi lebih stabil, serta pengurangan ketimpangan sosial. Negara yang berhasil meningkatkan kualitas manusianya akan memiliki bargaining power lebih kuat dalam percaturan global, termasuk dalam investasi, teknologi, dan keamanan nasional.
Kritik terhadap MBG sering berfokus pada besarnya anggaran. Namun dalam ekonomi pembangunan, ukuran yang relevan bukan biaya, melainkan return on investment jangka panjang. Banyak studi global menunjukkan bahwa setiap investasi pada nutrisi anak menghasilkan manfaat ekonomi berlipat melalui peningkatan produktivitas dan pengurangan beban kesehatan di masa depan.
Dengan kata lain, MBG bukan pengeluaran konsumtif, Ia adalah investasi strategis negara.
Namun perspektif internasional juga menuntut standar tinggi: tata kelola harus transparan, distribusi harus efisien, dan pengawasan harus ketat. Tanpa manajemen yang baik, program besar apa pun berisiko kehilangan legitimasi publik. Di sinilah peran masyarakat sipil, akademisi, dan mahasiswa menjadi penting sebagai mitra kritis pemerintah.
Mahasiswa yang mengkritik bukan musuh negara. Mereka adalah bagian dari mekanisme kontrol demokrasi. Tetapi kritik yang konstruktif seharusnya bertujuan memperbaiki kebijakan, bukan menegasikan visi besar pembangunan manusia.
Jika MBG berhasil, dampaknya tidak hanya dirasakan Indonesia. Negara dengan populasi besar dan kualitas manusia tinggi akan menjadi kekuatan ekonomi baru dunia. Indonesia berpotensi melompat dari negara berkembang menjadi kekuatan global yang diperhitungkan.
Sejarah menunjukkan bahwa transformasi besar bangsa selalu dimulai dari keberanian mengambil keputusan strategis yang tidak selalu populer di awal.
Pertanyaannya hari ini bukan apakah MBG sempurna.
Tidak ada kebijakan besar yang langsung sempurna.
Pertanyaan sebenarnya adalah:
apakah Indonesia berani berinvestasi serius pada generasi masa depan?
Jika jawabannya ya, maka Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar kebijakan sosial.
Ia adalah arsitektur peradaban.