Setiap kali keadaan sulit, nasihat yang paling sering terdengar selalu sama. Rakyat diminta berhemat, mengurangi jajan, menunda liburan, menekan gaya hidup.

Seolah-olah masalah ekonomi bisa selesai jika semua orang minum kopi lebih jarang dan belanja lebih bijak.

Padahal di saat yang sama, kebocoran terbesar justru tidak terjadi di meja makan rakyat, melainkan di lantai atas sistem ekonomi itu sendiri.

Ibarat kapal besar yang bocor di bagian mesin, penumpang kelas bawah diminta mengurangi air minum agar kapal tetap mengapung.

Penghematan dibebankan pada mereka yang porsinya sudah kecil, sementara aliran besar di atas terus berjalan tanpa banyak sentuhan.

Anggaran, proyek, dan kebijakan bernilai triliunan sering lolos dari logika efisiensi yang ketat, sementara pengeluaran harian rakyat diawasi dengan nasihat moral.

Data kasar menunjukkan kontras ini. Di banyak sektor, pemborosan struktural bernilai jauh lebih besar dibanding penghematan mikro yang diminta dari rumah tangga.

Satu kebijakan yang tidak tepat bisa menghabiskan anggaran setara pengeluaran jutaan keluarga selama setahun.

Namun narasi publik lebih sering diarahkan pada perilaku individu, bukan pada desain sistem yang boros sejak awal.

Masalahnya bukan pada ajakan hidup sederhana. Hemat selalu baik. Masalah muncul ketika hemat dijadikan tameng untuk menutupi kegagalan tata kelola.

Rakyat diminta menyesuaikan diri terus-menerus, sementara sistem jarang dipaksa berbenah secara serius.
Beban penyesuaian turun ke bawah, kenyamanan tetap di atas.

Selama penghematan hanya diminta dari yang paling sedikit menikmati hasil ekonomi, ketimpangan akan terasa makin nyata. Bukan karena rakyat menolak berhemat, tetapi karena mereka tahu pengorbanan itu tidak seimbang.

Sistem yang sehat bukan hanya menuntut disiplin dari warganya, tetapi juga menunjukkan bahwa disiplin yang sama berlaku di puncak kekuasaan dan pengelolaan.

By Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *