UMKM sering dipuji sebagai tulang punggung ekonomi, tetapi perlakuan terhadap mereka justru berlawanan dengan narasi tersebut.
Pelaku UMKM menghadapi biaya produksi tinggi, akses modal terbatas, persaingan tidak seimbang, dan tekanan dari platform besar.
Banyak kebijakan terlihat pro UMKM di atas kertas, tetapi sulit diakses di lapangan. Kredit mahal, pajak tetap berjalan, dan daya beli konsumen melemah.
Sementara itu, pemain besar punya modal kuat, teknologi, dan perlindungan sistem. UMKM akhirnya bertahan dengan margin tipis, rentan tutup saat krisis kecil saja.
Pujian tidak pernah berubah menjadi perlindungan nyata. Selama UMKM dibiarkan bertarung di pasar yang timpang, mereka akan terus dipuji saat kampanye, lalu dilupakan saat sistem benar-benar bekerja.